Tampilkan postingan dengan label Tabarruk Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabarruk Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Bersahabat Harmonis Dengan Al-Qur'an

Jika seseorang berada di persimpangan jalan, dia pasti akan memilih salah satu di antara kedua jalan tersebut. Akan tetapi, katakan saja, karena pendatang atau orang asing, dia tidak punya petunjuk jalan yang harus dia tempuh agar mencapai tujuan. Dalam kondisi seperti itu, dia memerlukan informasi yang menunjukkan jalan yang harus dia tempuh, yaitu dari orang yang mengetahui jalan tersebut; pemerintah setempat.
Ketika dia menoleh ke sebelah kiri, terlihatlah jalan yang penuh dengan daya tarik yang sangat menggiurkan. Dia pun tergoda untuk mangambil jalan tersebut. Akan tetapi, setelah dia melihat informasi resmi dari pamerintah setempat di papan pengumuman, ternyata jalan tersebut tidak akan membawanya ke tujuan.
Sementara itu, jalan arah kanan terlihat menanjak dan terjal, namun menurut informasi di papan pengumuman, jalan itulah yang menuju tujuannya.
Sesulit dan sebahaya apapun jalan sebelah kanan, tidak membuat orang itu ragu untuk melewatinya karena jalan itulah yang akan membawanya sampai ke tujuan. Dia akan berhati-hati ketika berjalan agar tidak terpelest atau jatuh. Ketika terasa letih, dia akan berusaha menaklukannya dengan terus membayangkan tujuan akhir dari perjalanannya tersebut.
Sebaiknya, jika dia memilih jalan sebelah kiri yang dihiasi pemandangan indah, awalnya dia tidak merasa letih, namun di akhir perjalanan, dia akan menyesal karena telah memilih jalan yang salah. Jika masih ada kesempatan untuk kembali, pasti dia akan berusaha untuk kembali ke tempat semula, namun jika tidak ada, dia akan menyesal selamanya.
Setiap orang, sejak zaman dahulu sampai sekarang, memiliki keinginan yang sama, yaitu ingin bahagia, sehat, teman yang setia, kedudukan yang terhormat, harta yang berlimpah, dan keinginan lainnya. Untuk meraih keinginan tersebut, Allah memberikan kemampuan yang berbeda. Namun, karena perbedaan inilah, muncullah persaingan yang terkadang membuat orang lemah tertindas dan orang kuat semakin congkak.
Orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab, berupaya membuat aturan yang dapat dipatuhi semua pihak demi tercapainya kehidupan yang harmonis dan teratur. Akan tetapi, manusia tetaplah manusia dengan segala atribut keterbatasannya, aturan yang dibuatnya pun teramat terbatas.
Di samping tidak mungkin bisa diterapkan kepada semua pihak dengan latar belakang dan budaya yang berbeda, aturan tersebut tidak mungkin bisa bertahan sepanjang waktu. Ketika aturan produk makhluk serba terbatas itu diterapkan secara paksa kepada pihak tertentu, bukan saja menolak, mereka bahkan tidak mustahil akan memeranginya.
Melihat kenyataan ini, seorang hamba berceloteh, “Aturan yang saya buat sangat sulit dipraktikkan terhadap diri saya sendiri. Lalu, apakah mungkin aturan ini dapat diterapkan pada orang lain? Aturan yang disusun di keluarga saya sering dilanggar oleh anggota keluarga saya sendiri, apakah mungkin aturan tersebut dapat diterapkan di keluarga lain? Kalau begitu, aturan mana yang mesti dijadikan pegangan oleh setiap insan?”
Undang-undang suatu negara sering dilanggar oleh rakyatnya sendiri sejak undang-undang itu diterapkan karena para penyusunnya pun terkadang tidak mampu mematuhinya. Lalu, apakah patut kita mengatakan bahwa undang-undang tersebut bisa diterapkan di seluruh ruang dan waktu? Jika undang-undang di negeri kita ini saja disikapi berbeda oleh rakyatnya, undang-undang di negara lain pun tidak akan jauh berbeda.
Jika kenyataannya demikian, masihkah ada pihak yang mengklaim bahwa aturan produk manusia bisa diterapkan untuk semua pihak dan dipertahakan untuk setiap masa?
Kembalilah kepada Al Quran! Karena dustur ilahi tersebut adalah hudan (petunjuk) yang diturunkan oleh Penguasa dan Pencipta semesta alam, Yang Maha Mengetahui semua keperluan makhluknya.
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ
Ya Allah, hamba yakin bahwa, Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada yang mengetahui akan kelemahan semua makhluk selain Engkau. Tiada yang berkuasa mengatasi persoalan seluruh makhluk selain Engkau. Tiada yang mengetahui akan keperluan hamba selain Engkau. Tiada aturan yang patut dijadikan pegangan bagi semua manusia selain aturan-Mu.
Ya Allah, hamba menyadari bahwa keimanan hamba belum berwujud amal karena hamba masih sering melanggar atruran-Mu. Ini adalah semata-mata karena kotornya diri hamba.
سُبْحَانَكَ
Ya Allah, ketika hamba malanggar aturan-Mu, hamba yakin, Engkau selalu melihat semua perilaku hamba. Ya Allah, sungguh hamba tidak bermaksud mempermainkan-Mu apalagi menaentang-Mu, namun hal itu terjadi semata-mata karena kelalaian.
Ya Allah, sungguh hamba termasuk orang yang zhalim.
نِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
K epada siapa, ya Allah, hamba memohon perlindungan akibat kezhalimanini jika bukan kepada Engkau. Karena itu, kini hamba akan berupaya untuk menerima aturan-Mu sebagaimana mestinya. Berilah hamba kemudahan untuk menerima Al Qur`an sebagaimana mestinya

Bererapa hadits yang lemah mengenai keutamaan surat

Surat Ali Imran, hadits ini adalah derajadnya maudhu’ dari Ubai bin Ka’ab
 

من قرأ سورة آل عمران أعطي بكل آية منها أماناً على جسر جهنم
Barangsiapa yang membaca surat ali imran, maka setiap ayat akan memberi keamanan pada waktu melewati titian jahannam”(HR. Baidhowi)


Surat al-A’raf, derajad haditsnya adalah maudhu’

مَنْ قرأ سورة الأعراف جعل الله يوم القيامة بينه وبين إبليس سداً، وكان آدم شفيعاً له يوم القيامة
“Barangsiapa yang membaca surat al-A’raf maka Allah akan menjadikan diantaranya dengan iblis penghalang, dan adam akan member syafa’at pada hari kiamat” (HR. Baidhowi) 


Surat al-Jatsiyah, derajad haditsnya adalah maudhu’

مَنْ قرأ سورة حم الجاثية، ستر الله عورته، وسكّنَ روعته يوم الحساب
“Barangsiapa yang membaca surat al-jatsiyah, niscaya allah akan menutup auratnya dan akan menghilangkan kepanikannya pada hari perhitungan(yaumul hisab)” (HR. Baidhowi)

Surat Yasin, dalam masalah keutamaan surat yasin ini sebenarnya banyak sekali hadits dho’if yang menyebutkannya, diantaranya adalah:

عن أبى هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا له، ومن قرأ الدخان ليلة الجمعة أصبح مغفورا له
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.” (Ibnul Jauzi, Al-Maudhu’at, 1/247).

Fadhilah Surat al-Mulk

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:”Sesungguhnya ada satu surat yang berjumlah tiga puluh ayat yang memberikan syafa’at kepada yang menghafalkannya sampai ia diampuni, itu adalah surat atTabarak (Al Mulk).”Hadits di atas diriwayatkan oleh penyusun kitab Sunan yang empat dari hadits Syu’bah. Dan Imam at Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

Fadhilah Surat Al-A’raf

Rasulullah bersabda:

“… عن أبى عبد الله عليه السلام قال: مَن قرأ سورة الأعراف فى كل شهر كان يوم القيامة من الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون، فإن قرأها فى كل جمعة كان ممن لا يُحاسَب يوم القيامة لأن فيها محكماً، فلا تدعوا قراءتها فإنها تشهد يوم القيامة لمن قرأها”.
 
“Dari abi Abdullah ‘Alaihis Salam berkata: barangsiapa yang membaca surat al-a’raf pada setiap bulan maka pada hari kiamat dia tidak akan termasuk orang yang tidak memiliki rasa takut dan sedih, dan apabila dibaca pada setiap jum’at maka pada hari kiamat termasuk orang yang tidak dihisab karena didalamnya terdapat ayat yang muhkam, maka dari itu jangan kalian meninggalkan untuk membacanya, dikarenakan surat ini akan menjadi saksi pada hari kiamat bagi yang membacanya” (HR. bukhari)

Fadhilah Surat an-Nas dan al-Falaq

Rasulullah bersabda:
عن عقبة بن عامر قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ألم تر آيات أنزلت الليلة لم ير مثلهن قط ؟ قل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa rasulullah bersabda: “Tidakkah kamu memperhatikan ayat-ayat yang baru diturunkan tadi malam yang tidak ada sesuatupun yang semisal dengannya? Qul A’uudzu bi rabbil Falaq, dan Qul A’uudzu bi rabbin Naas.” (HR. Muslim)

Fadhilah Surat Al-Ikhlas

Rasulullah bersabda:
أن رجلا سمع رجلا يقرأ { قل هو الله أحد } . يرددها فلما أصبح جاء إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكر ذلك له وكأن الرجل يتقالها فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( والذي نفسي بيده إنها لتعدل ثلث القرآن )
Dari abu said al-hudri juga bahwa ada seseorang mendengar orang alian membaca surat al-ikhlas secara berulang-ulang. Keesokan harinya ia dating kepada rasulullah dan menceritakan kejadian tersebut seakan-akan ia menganggapnya remeh. Maka Rasulullah bersabda: “demi dzat yang diriku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga al-Qur`an.” (HR. al-Bukhari)

Fadhilah Surat Al-Fath

Rasulullah bersabda:
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يسير في بعض أسفاره وعمر بن الخطاب يسير معه ليلا فسأله عمر عن شيء فلم يجبه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم سأله فلم يجبه ثم سأله فلم يجبه فقال عمر ثكلتك أمك نزرت رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات كل ذلك لا يجيبك قال عمر فحركت بعيري حتى كنت أمام الناس وخشيت أن ينزل في قرآن فما نشبت أن سمعت صارخا يصرخ بي قال فقلت لقد خشيت أن يكون نزل في قرآن قال فجئت رسول الله صلى الله عليه و سلم فسلمت عليه فقال ( لقد أنزلت علي الليلة سورة لهي أحب إلي مما طلعت عليه الشمس ) . ثم قرأ { إنا فتحنا لك فتحا مبينا }
Bahwasanya Rasulullah SAW sedang berjalan ketika safar bersama Umar bin Khaththab pada malam hari, kemudian Umar bin Khaththab bertanya tentang sesuatu, dan tidak dijawab oleh Rasulullah, kemudian bertanya lagi, dan tidak dijawab, kemudian bertanya lagi dan tidak dijawab, kemudian umar berkata: duhai malangnya engkau wahai Umar(dia berkata pada dirinya sendiri) kamu telah bertanya kepada Rasulullah sebanyak tiga kali, tapi semuanya tidak dijawab, kemudian Umar berkata: kemudian aku menggerakkan tungganganku sampai pergi kedepan banyak orang dan aku takut dengan kejadisn itu akan turun al-Qur`an, dan tidak lama kemudian ada suara yang memanggilku, kemudian aku berkata: aku sangat hawatir dengannya akan turun al-Qur`an, kemudian aku mendatangi Rasulullah dan mengocapkan salam kepadanya kemudian beliau berkata: Tadi malam telah turun kepadaku satu surat yang mana lebih aku sukai dari terbitnya matahari, kemudian beliau membacakan: Inna fatahna laka fathan mubiina. (HR. Bukhari)

Fadhilah surat al-Kahfi

Rasulullah bersabda:
من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف عصم من الدجال
Barangsiapa yang menghafal 10 ayat dari surat al-kahfi akan dililndungi dari dajjal.” (HR. Muslim)

Macam-macam surat dalam al-Qur'an

Surat-surat Qur`an itu ada empat bagian:
  1. At Tiwal ada tujuh surah, yaitu baqarah, Ali Imran, an Nisa`, Al Maidah, An’am, A’raf dan yang ketujuh ad yang mengatakan anfal dan bara’ah sekaligus karena tidak  dipisah dengan basmalah diantra keduanya. Dan dikatakan pula bahwa yang ketujuh adalah surah Yunus.
  2. Al mi’un, yaitu surah-surah yang ayat-ayatnya lebih dari seratus atau sekitar itu.
  3. Al Matsani, yaitu  surah-surah yang jumlah ayatnya di bawah al Mi’un. Dinamakan masani karena surah itu di ulang-ulang bacaanya lebih banyak dari at tiwal dam al mi’un.
  4. Al mufasal, dikatakan bahwa surah–surah ini dimulai dari surah qof, ada pula yang mengatakan di mulai dari surat al hujurat, juga ada yang mengatakan dimulai dari surat yang lain. Mufasal di bagi menjadi tiga: Tiwal ,ausat dan qisar. Mufassal tiwal dimulai dari surat Qaf atau hujurat sampai dengan Amma atau buruj. Al mufasal ausat dimulai dari surah Amma atau buruj  sampaidengan duha atau lam yakun. Dan mufasal qisar dimiulai dari dhuha atau lam yakun sampai dengan surah Qur’an terakhir.
Dinamakan mufasal, karena banyaknya fasl (pemisah) diantara surah-surah tersebut dengan basmalah.

Fadhilah Surah Ali Imran

Telah menceritakan padaku Abu Umamah Al-Bahiliy RA berkata, Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Bacalah oleh kalian semua Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat nanti sebagai pembawa syafa'at bagi para pembacanya, bacalah oleh kalian semua "Dua yang Bersinar", (yaitu) Al-Baqarah dan Ali Imran, maka ia akan datang pada Hari Kiamat nanti bagaikan 2 naungan, atau bagaikan 2 awan, atau bagaikan 2 belahan burung dari angkasa yang menghalangi para pembacanya (dari api neraka, –pen). Bacalah oleh kalian surah Al-Baqarah karena barangsiapa yang mengambilnya akan dilimpahkan berbagai kebaikan dan barangsiapa yang meninggalkannya akan ditimpa kerugian, dan tidak ada Al-Bathlah yang mampu mencelakakannya." Berkata Mu'awiyah, Telah disampaikan kepadaku bahwa makna Al-Bathlah yaitu Tukang-tukang Sihir/Guna-guna. [1].

An-Nawwas bin Sam'an Al-Kilabiy berkata, Aku mendengar Nabi SAW bersabda, "Akan diberikan Al-Qur'an kepada para pembacanya di Hari Kiamat, yaitu orang-orang yang mengamalkannya, didahului oleh surah Al-Baqarah dan Ali Imran." Maka Nabi SAW membuat 3 perumpamaan yang tak akan dilupakan setelahnya, beliau SAW bersabda, "Kedua surah itu laksana 2 awan, atau 2 naungan gelap yang di antara keduanya ada cahaya, atau 2 belahan burung besar yang menjaga dan menghalangi para pembacanya (dari api neraka, –pen)." [2].

Dari Ibnu Abbas RA berkata, Aku menginap di rumah bibiku Maimunah, aku berkata, Aku mau melihat shalat malamnya Nabi SAW, maka kuintip Nabi SAW saat beliau SAW tidur. Beliau SAW tidur pada waktu yang panjang dari malam itu. Setelah kantuk hilang dari wajahnya, maka beliau SAW membaca 10 ayat di akhir surat Ali Imran sampai selesai. [3].

Dari Hudzaifah RA berkata, Aku shalat (qiyam al-layl, –pen) berjama'ah [4] bersama Nabi SAW di suatu malam. Beliau SAW membukanya dengan membaca surah Al-Baqarah, maka aku berkata (dalam hati, –pen), Nampaknya beliau SAW akan ruku' [5]. Setelah membaca 100 ayat, beliau SAW terus melanjutkan bacaannya. Aku berkata lagi, Nampaknya beliau SAW akan membaca seluruh surah Al-Baqarah dalam 1 rakaat. Tetapi beliau SAW terus melanjutkan dengan membaca surat An-Nisa', dibaca seluruhnya. Lalu beliau SAW membaca surat Ali Imran dan dibaca seluruhnya [6]. Beliau SAW membacanya dengan perlahan-lahan. Setiap bertemu dengan ayat tasbih, beliau SAW bertasbih dulu. Dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW bertanya. Dan setiap beliau SAW bertemu dengan ayat perlindungan, beliau SAW memohon perlindungan dulu [7]. Lalu beliau SAW ruku' [8].

Nama-nama ALLAH yang paling agung dalam Al-Qur'an ada di 3 tempat, yakni di surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan Thaha.

Penulis : Aba Abdillah @ kotasantri.com

Fadhilah Surah Al-Baqarah

1. Fadhilah Surah Al-Baqarah :

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ قَالَ بَيْنَمَا هُوَ يَقْرَأُ مِنْ اللَّيْلِ سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَفَرَسُهُ مَرْبُوطَةٌ عِنْدَهُ إِذْ جَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ فَسَكَتَتْ فَقَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَسَكَتَ وَسَكَتَتْ الْفَرَسُ ثُمَّ قَرَأَ فَجَالَتْ الْفَرَسُ فَانْصَرَفَ وَكَانَ ابْنُهُ يَحْيَى قَرِيبًا مِنْهَا فَأَشْفَقَ أَنْ تُصِيبَهُ فَلَمَّا اجْتَرَّهُ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى مَا يَرَاهَا فَلَمَّا أَصْبَحَ حَدَّثَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ اقْرَأْ يَا ابْنَ حُضَيْرٍ قَالَ فَأَشْفَقْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَطَأَ يَحْيَى وَكَانَ مِنْهَا قَرِيبًا فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَانْصَرَفْتُ إِلَيْهِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مِثْلُ الظُّلَّةِ فِيهَا أَمْثَالُ الْمَصَابِيحِ فَخَرَجَتْ حَتَّى لَا أَرَاهَا 
قَالَ وَتَدْرِي مَا ذَاكَ قَالَ لَا قَالَ تِلْكَ الْمَلَائِكَةُ دَنَتْ لِصَوْتِكَ وَلَوْ قَرَأْتَ لَأَصْبَحَتْ يَنْظُرُ النَّاسُ إِلَيْهَا لَا تَتَوَارَى مِنْهُمْ

Dari Usaid Ibnu Hudhair bahwa pada saat ia membaca di waktu malam surah Al-Baqarah dan kudanya ditambat di sampingnya, maka tiba-tiba kudanya menjompat-lompat maka Usaid pun berhenti membaca dan kudanyapun diam, lalu ia membaca kembali maka kudanya menjompat-lompat kembali, lalu berhenti lagi dan kudanyapun diam kembali, lalu ia membaca kembali maka kudanya menjompak-lompat kembali, maka iapun menghentikan bacaannya karena anaknya Yahya berada disisinya dan ia takut anaknya cedera terdepak oleh kuda tersebut, saat kudanya telah tenang ia mendongak ke arah langit dan ia melihat seperti naungan dengan pelita-pelita kecil yang makin jauh sampai tak nampak lagi, lalu saat Shubuh ia menceritakan hal tersebut pada Nabi SAW, maka sabda Nabi SAW : Bacalah wahai Ibnu Hudhair..! Bacalah wahai Ibnu Hudhair..! Maka Ibnu Hudhair menjelaskan ia takut kudanya menendang anaknya yngg ada di dekat situ.. dan seterusnya. Lalu sabda Nabi SAW : Apakah kamu tahu apa yang kamu lihat di langit itu..? Jawab Ibnu Hudhair : Tidak. Jawab Nabi SAW : Itu adalah Malaikat yang mendekat karena indahnya suaramu, seandainya kamu terus membaca maka saat Shubuh orang-orang akan bisa melihatnya juga. [1]

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ لَمْ يَتَكَلَّمْ حَتَّى يَفْرُغَ 
مِنْهُ فَأَخَذْتُ عَلَيْهِ  يَوْمًا فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَكَانٍ قَالَ تَدْرِي فِيمَ أُنْزِلَتْ قُلْتُ لَا قَالَ أُنْزِلَتْ فِي كَذَا وَكَذَا ثُمَّ مَضَى

Telah menceritakan pada kami Ishaq, telah mengkabarkan pada kami An-Nadhr bin Syumail, telah mengabarkan pada kami ‘Aun dari Nafi’ berkata : Adalah Ibnu Umar RA. jika sedang membaca Al-Qur’an diam tidak berbicara sampai ia selesai membaca, maka aku datang padanya pada suatu hari dan ia sedang membaca surah Al-Baqarah sampai ia selesai pada suatu batas tertentu, tiba-tiab ia berkata (padaku
–pen) : Tahukah kamu tentang apa ayat ini turun? Kujawab : Tidak. Maka ia berkata : Ia turun mengenai peristiwa ini dan itu. Lalu iapun (Ibnu Umar –pen) pergi meninggalkanku.
[2]

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan kalian jadikan rumah kalian (seperti) kuburan, sesungguhnya Syaithan itu lari dari rumah yang dibacakan didalamnya surah Al-Baqarah.” [3]

حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ
وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ . قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ

Telah menceritakan padaku Abu Umamah Al-Bahiliy R.A berkata : Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “Bacalah oleh kalian semua Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat nanti sebagai pembawa Syafa’at bagi para pembacanya, bacalah oleh kalian semua “Dua Yang Bersinar” (yaitu) Al-Baqarah dan Ali Imran, maka ia akan datang pada Hari Kiamat nanti bagaikan 2 naungan, atau bagaikan 2 awan, atau
bagaikan 2 belahan burung dari angkasa yang menghalangi para pembacanya (dari api neraka –pen). Bacalah oleh kalian surah Al-Baqarah karena barangsiapa yang mengambilnya akan dilimpahi berbagai kebaikan dan barangsiapa yang meninggalkannya akan ditimpa kerugian, dan tidak ada Al-Bathlah yang mampu mencelakainya.” Berkata Mu’awiyah : Telah disampaikan kepadaku bahwa makna Al-Bathlah yaitu Tukang-tukang Sihir/Guna-guna.
[4]

النَّوَّاسَ بْنَ سَمْعَانَ الْكِلَابِيَّ يَقُولُا : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
وَآلُ عِمْرَانَ وَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَمْثَالٍ مَا نَسِيتُهُنَّ بَعْدُ قَالَ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabiy berkata : Aku mendengar Nabi SAW bersabda : “Akan diberikan Al-Qur’an kepada para pembacanya di Hari Kiamat, yaitu orang-orang yang mengamalkannya, didahului oleh surah Al-Baqarah dan Ali Imran, maka Nabi SAW membuat 3 perumpamaan yang tak akan dilupakan setelahnya, beliau SAW bersabda : “Kedua surah itu laksana 2 awan, atau 2 naungan gelap yang diantara keduanya ada cahaya, atau 2 belahan burung besar yang menjga dan menghalangi para pembacanya (dari api neraka –pen).” [5]

Keutamaan surat al-Fatihah

Surat Al-Fatihah adalah surat yang amat masyhur, telah dikenal oleh seluruh kaum muslimin. Saking terkenalnya, terkadang sebagian kaum muslimin menyalahgunakannya, seperti membacanya untuk orang mati saat ziarah kubur, atau mengirimkan pahalanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, dan orang-orang yang telah mati. Semua ini tak ada contohnya dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat Al-Fatihah amat masyhur, namun banyak di antara kita tak mengetahui fadhilah, dan keutamaannya. Padahal banyak sekali hadits-hadits yang menunjukkan keutamaannya, baik dari sisi kandungan atau kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Diantara fadhilah dan keutamaan Surat Al-Fatihah:

Surat yang Paling Agung
Orang yang membaca Al-Fatihah akan mendapatkan balasan pahala yang besar di sisi Allah. Terlebih lagi jika ia membacanya dengan ikhlash, dan mentadabburi maknanya.
Abu Sa’id bin Al-Mu’allaa -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
كُنْتُ أُصَلِّيْ فَدَعَانِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّيْ كُنْتُ أُصَلِّيْ, قَالَ: أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: (اسْتَجِيْبُوْا لِلّهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعَاكُمْ), ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ؟. فَأَخَذَ بِيَدِيْ, فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّكَ قُلْتَ: لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ. قَالَ: (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ), هِيَ السَّبعُ الْمَثَانِيْ وَاْلقُرْآنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتَهُ
Dulu aku pernah sholat. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memanggilku. Namun aku tak memenuhi panggilan beliau. Aku katakan, “Wahai Rasulullah, tadi aku sholat“. Beliau bersabda, “Bukankah Allah berfirman,
“Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu“. (QS. Al-Anfaal: 24).
Kemudian beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan surat yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid”?. Beliau pun memegang tanganku. Tatkala kami hendak keluar, maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi Anda bersabda, “Aku akan ajarkan kepadamu Surat yang paling agung dalam Al-Qur’an”. Beliau bersabda, “Alhamdulillahi Robbil alamin. Dia ( Surat Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim yang diberikan kepadaku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4720), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1458), dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (913)]
Al-Imam Ibnu At-Tiin-rahimahullah- berkata saat menjelaskan makna hadits di atas, “Maknanya, bahwa pahalanya lebih agung (lebih besar) dibandingkan surat lainnya”. [Lihat Fathul Bari(8/158) karya Ibnu Hajar Al-Asqolaniy]

Surat Terbaik dalam Al – Qur’an
Surat Al-Fatihah merupakan surat terbaik, karena ia mengandung tauhid, ittiba’ (mengikuti) Sunnah, adab berdo’a, al-wala’ wal baro’, keimanan terhadap perkara gaib, dan lainnya.
Ibnu Jabir-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
اِنْتَهَيْتُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ إِهْرَاقَ الْمَاءَ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ: السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَقُلْتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِيْ وَأَنَا خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى رَحْلِهِ وَدَخَلْتُ أَنَا الْمَسْجِدَ فَجَلَسْتُ كَئِيْبًا حَزِيْنًا فَخَرَجَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَطَهَّرَ فَقَالَ : عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ و عَلَيْكَ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ ثُمَّ قَالَ اَلاَ أُخْبِرُكَ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ جَابِرٍ بِخَيْرِ سُوْرَةٍ فِيْ الْقُرْآنِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: اِقْرَأْ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَتَّى تَخْتِمَهَا
Aku tiba kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , sedang beliau mengalirkan air. Aku berkata, “Assalamu alaika, wahai Rasulullah”. Maka beliau tak menjawab salamku (sebanyak 3 X). Kemudian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berjalan, sedang aku berada di belakangnya sampai beliau masuk ke kemahnya, dan aku masuk ke masjid sambil duduk dalam keadaan bersedih. Maka keluarlah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menemuiku, sedang beliau telah bersuci seraya bersabda, “Alaikas salam wa rahmatullah (3 kali)”. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Abdullah bin Jabir, maukah kukabarkan kepadamu tentang sebaik-baik surat di dalam Al-Qur’an”. Aku katakan, “Mau ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Bacalah surat Alhamdulillahi Robbil alamin (yakni, Surat Al-Fatihah) sampai engkau menyelesaikannya“. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/177). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Musnad (no. 17633)]

Al – Fatihah adalah Al – Qur’an Al – Azhim
Surat Al-Fatihah dinamai oleh Allah dengan “Al-Qur’an Al-Azhim”, padahal Al-Qur’an Al-Azim bukan hanya Al-Fatihah, masih ada surat-surat lainnya yang berjumlah 11 3. Namun Allah -Azza wa Jalla- menamainya demikian karena kandungan Al-Fatihah meliputi segala perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an Al-Azhim secara global. Wallahu A’lam bish showab.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ
Ummul Qur’an (yakni, Al-Fatihah) adalah tujuh ayat yang berulang-ulang, dan Al-Qur’an Al-Azhim“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (4427), Abu Dawud dalam Sunan-nya (1457), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3124)]

Surat Ruqyah
Al-Qur’an seluruhnya bisa digunakan dalam meruqyah. Namun secara khusus Al-Fatihah pernah dipergunakan oleh para sahabat dalam meruqyah sebagian orang yang tergigit kalajengking. Dengan berkat pertolongan Allah, orang yang digigit kalajengking tersebut sembuh kala itu juga.
Sekarang kita dengarkan kisahnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- ketika beliau berkata,
انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفْرَةٍ سَافَرُوْهَا حَتَّى نَزَلُوْا عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِيْنَ نَزَلُوْا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوْا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ وَسَعْيُنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ فَهَلْ عَنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ وَاللهِ إِنِّيْ لأَُرْقِي وَلَكِنْ وَاللهِ لَقَدْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوْا لَنَا جُعْلاً فَصَالَحُوْهُمْ عَلَى قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ فَانْطَلَقَ يَتْفُلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ { الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ } . فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَانْطَلَقَ يَمْشِي وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ . قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِيْ صَالَحُوْهُمْ عَلَيْهِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوْا فَقَالَ الَّذِيْ رَقِيَ: لاَ تَفْعَلُوْا حَتَّى نَأْتِيّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِيْ كَانَ فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا فَقَدِمُوْا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فَذَكَرُوْا لَهُ فَقَالَ: وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ . ثُمَّ قَالَ: قَدْ أَصَبْتُمْ اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِيْ مَعَكُمْ سَهْمًا . فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Sebagian diantara mereka berkata, “Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) diantara mereka”.Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, “Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?” Sebagian sahabat berkata, “Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami”. Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, “Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah)”. Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, “Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, “Silakan bagi (kambingnya)”. Yang me-ruqyah berkata, “Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita”. Mereka pun datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?” Kemudian beliau bersabda lagi, “Kalian telah benar, silakan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian”. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tertawa“. [HR. Al-Bukhoriy (2156), Muslim (2201)]
Al-Imam Ibnu Abi Jamroh-rahimahullah- berkata, “Tempat memercikkan ludah ketika me-ruqyah adalah usai membaca Al-Qur’an pada anggota badan yang dilalui oleh ludah”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (9/206)]

Cahaya Untuk Ummat Islam
Satu lagi diantara fadhilah Al-Fatihah, ia disebut dengan cahaya, karena di dalamnya terdapat petunjuk bagi seorang muslim dalam semua urusannya. Jika kita mengkaji Al-Fatihah secara mendalam, maka kita akan mendapat banyak faedah dan petunjuk. Oleh karena itu, sebagian ulama’ telah menulis kitab khusus menafsirkan Al-Fatihah dan mengeluarkan mutiara hikmahnya yang berisi pelita yang menerangi kehidupan kita.
Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
بَيْنَمَا جِبْرِيْلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيْضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى اْلأَرْضِ لَمْ يَنْزِلُ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيْمَ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيْتَهُ
Tatkala Jibril duduk di sisi Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , maka ia mendengarkan suara (seperti suara pintu saat terbuka) dari atasnya. Maka ia (Jibril) mengangkat kepalanya seraya berkata, “Ini adalah pintu di langit yang baru dibuka pada hari ini; belum pernah terbuka sama sekali, kecuali pada hari ini”. Lalu turunlah dari pintu itu seorang malaikat seraya Jibril berkata, “Ini adalah malaikat yang turun ke bumi; ia sama sekali belum pernah turun, kecuali pada hari ini”. Malaikat itu pun memberi salam seraya berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu; belum pernah diberikan kepada seorang nabi sebelummu, yaitu Fatihatul Kitab, dan ayat-ayat penutup Surat Al-Baqoroh. Tidaklah engkau membaca sebuah huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberi“. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (806), dan An-Nasa’iy (912)]

Penentu Sholat
Al-Fatihah adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengerjakan sholat, baik ia imam, makmum, atau pun munfarid (sholat sendiri). Barangsiapa yang tak membacanya, maka sholatnya tak sah.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلاَثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيْلَ لِأَبِيْ هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُوْنُ وَرَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ: اِقْرَأْ بِهَا فِيْ نَفْسِكَ فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ
Barangsiapa yang melakukan sholat, sedang ia tak membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) di dalamnya, maka sholatnya kurang (3X), tidak sempurna”. Abu Hurairah ditanya, “Bagaimana kalau kami di belakang imam”. Beliau berkata, “Bacalah pada dirimu (yakni, secara sirr/pelan), karena sungguh aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Allah -Ta’ala- berfirman, “Aku telah membagi Sholat (yakni, Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku setengah, dan hamba-Ku akan mendapatkan sesuatu yang ia minta”. [HR. Muslim (395), Abu Dawud (821), At-Tirmidziy (2953), An-Nasa’iy (909), dan Ibnu Majah (838)]

Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Al-Fatihah dinamai sholat, karena sholat tak sah, kecuali bersama Al-Fatihah“. [Lihat Syarh Shohih Muslim (2/127)]
Inilah beberapa diantara keutamaan Al-Fatihah, kami sajikan bagi para khotib, da’i, penuntut ilmu, dan seluruh kaum muslimin agar mereka tahu dan mengamalkan hadits-hadits shohih ini, dan menyebarkannya, tanpa berpegang lagi dengan hadits-hadits lemah dan palsu tentang fadhilah Al-Fatihah.

sumber http://qurandansunnah.wordpress.com

Keutamaan surat al-Baqarah dan Ali-imran

Mengenai pengkhususan keutamaan bagi sebagian surat dan ayat al-qur'an telah disebutkan dalam as-sunnah, sebagaimana hal itu telah masyur, di antaranya adalah surat al-fatihah yang menjadi syarat syahnya shalat. kemudian, surat al-baqarah dan surat Ali-imran. mengenai kedua surat ini, Nabi SAW bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

"Bacalah dua surat yang bersinar, yaitu surat al-bawarah dan surat ali imran. karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti duabuah awan, atau seperti dua hal yang menaungi, atau seperti dua kawanan burung yang berbaris, keduanya memberikan pembelaan kepada pembacanya."

Setelah itu, Beliau SAW bersabda mengenai kedudukan surat al-Baqarah  :
"bacalah surat al-Baqarah, karena membacanya adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya adalah suatu kerugian, dan ia tidak dapat ditandingi oleh tukang sihir" (HR. imam Muslim dalam kitab shahiih-nya)

Termasuk keberkahan surat al-baqarah yaitu syaitan akan lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat al-Baqarah, sebagaimana hal itu telah disebutkan secara shahiih dari Nabi SAW (Lihat Shahiih Muslim I/539, kitab Shalaatul musaafirin, Bab Istihbaab Shalaatin naafilah fii baitihi wa Jawaazuha fil Masjid).

Di dalam surat ini juga terdapat ayat kursi yang merupakan ayat yang paling mulia di dalam Kitabullah dan ayat yang mengandung keberkahan dan keutamaan yang bersifat khusus di dunia dan di akhirat. Dua ayat terakhir dari surat ini juga memiliki keutamaan yang besar.


Keberkahan dan keutamaan membaca Al-qur'an

Allah SWT berfirman seraya memerintahkan kita untuk membaca Kitab-Nya :

"Dan bacalah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabbmu (Al-Qur'an). tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat - kalimat-Nya.." (Qs. Al - Kahfi : 27)

Rasulullah SAW bersabda  :
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya" (HR. Imam Muslim dari hadist Abu umamah al-bahili)

Allah berfirman ketika menerangkan keutamaan membaca Al-qur'an :
"Sesungguhnya orang - orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam - diam dan terang - terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka ampunan-nya. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri" (QS. Faathir : 29-30)

Adapun hadist mengenai hal tersebut sangat banyak, diantaranya hadist 'Uqbah bin 'Amir yang diriwayatkan dalam shahiih Muslim, Nabi SAW bersabda :
"Tidaklah seseorang dari kalian pergi pada pagi hari ke masjid, lalu ia mempelajari atau membaca dua ayat dari Kitabullah, padahal itu lebih baik baginya daripada dua ekor unta; tiga ayat lebih baik baginya daripada tiga ekor unta, empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor unta, dan bilangan - bilangan ayat lebih baik dibandingkan dengan unta" (Shahiih Muslim I/550 , Kitab Shalaatul Musaafirin, bab Fadl Qiraa-ati Qur-aan fish shalah wa Ta'allumihi)

Diantaranya pula, hadist Abu Hurairah r.a yang juga diriwayatkan dalam shahiih muslim, nabi SAW bersabda ;
"... Dan tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, mereka akan diselimuti rahmat, para Malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut nama - nama mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.."

Disebutkan dalam Shahiih Bukhari dan Shahiih Muslim bahwa para malaikat mendekat dan mendengarkan bacaan Usaid bin hudair :
At-tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a., ia berkata : Rasululah SAW bersabda :
"Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."


Perumpamaanyang dibuat oleh Nabi SAW mengenai orang yang membaca Al-Qur'an dan meninggalkannya, baik ia orang yang beriman atau seorang munafik.
Al-bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
"Perumpamaan seorang Mukmin yang membaca al-qur'an adalah laksana buah utrujah, aromanya harum dan rasanya enak. sementara, perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-qur'an adalah laksana buah korma yang tidak memiliki aroma, namun rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafik yang membaca al-qur'an adalah laksana raihaanah, aromanya harum, namun rasanya pahit. Dan, perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca al-qur'an adalah laksana buah hanzalah yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit."

Bismillah

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur-an, akan mendapatkan suatu kebaikan. Sedang satu keba-ikan akan dilipatkan sepuluh kali lipat. Aku tidak berkata, Alif laam miim, satu huruf. akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf. [HR. At-Tirmidzi (no. 2910). Lihat pula Shahih at-Tirmidzi (III/9) dan Shahih al-Jaami’ush Shaghir (no. 6469), dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu]

Semoga ini yang terakhir n mendapatkan berkah dari Allah SWT, Amiin ya Rab

Wassalamu'alaykum Wr. Wb

Cilacap, 16 September 2010

penjagaquran@gmail.com

 free web counter Counter Powered by  RedCounter

About this blog

Semoga media ini bisa menambah timbangan amalku di akhirat kelak, Amiin Ya Rabbal 'alamiin. kirimkan kritik dan saran ke alamat penjagaquran@gmail.com

Buletin Jum'at

Fatwa Rasulullah

Doa dan Dzikir Rasululah SAW

Biografi Tokoh

1 day 1 ayat

Download


ShoutMix chat widget
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku