Tampilkan postingan dengan label Sahabat Nabi SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Nabi SAW. Tampilkan semua postingan

Ali bin Abi Thalib

Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.
Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.
Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.
Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.
Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.
Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.
Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.
Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.
Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.
Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.
Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.
Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.
Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.
Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.
Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.
Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).
Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.

Sa'ad bin abi Waqqash

~Pemanah Pertama Dalam Islam~


Sa’ad adalah seorang pemuda dari kalangan keluarga terhormat di Makkah. Ayah dan ibunya berasal dari keluarga Manaf, yang merupakan keluarga dari garis keturunan Ibunda Rasulullah saw, Aminah binti Wahab. Dengan demikian ia termasuk salah seorang paman Baginda Rasulullah. Ia pun termasuk dalam 10 Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Surga.

Sebelum keislamannya, Sa’ad merupakan pemuda yang luar biasa mandiri. Disaat usianya sudah mencapai 17 tahun, ia sudah memiliki pekerjaan yang layak. Ia bekerja sebagai pembuat peralatan memanah yang ahli dan diakui dikalangan penduduk Makkah. Ia termasuk pemuda yang saat itu tidak peduli dengan Agama dan kepercayaan penduduk Makkah yang Musyrik. Ia sangat mencintai dan mentaati Ibunya.

Seolah menanti perubahan pada diri dan lingkungannya, Sa’ad yang saat itu sudah mencapai kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak, segera menerima Hidayah yang disampaikan Rasulullah saw. Maka tercatatlah ia dalam sejarah sebagai orang ketiga yang masuk Islam. Dengan kharisma dan wibawanya, ia berhasil membujuk beberapa pemuda yang berstatus sosial tinggi untuk mengikutinya ke dalam Hidayah Allah swt.
Keislaman Sa’ad membuat Rasul sangat bergembira, karena Beliau melihat pada diri Sa’ad keberanian dan kedewasaan yang akan membantu Kaum Muslimin dalam mengahadapi cobaan-cobaan yang menanti didepan sana.
Allah swt selalu memberikan cobaan-cobaan kepada orang-orang yang telah mengaku beriman. Sesuai dengan ayat dalam surat Al-Ankabuut ayat 2-3 :



أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا


آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون


َوَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ


صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّالْكَاذِبِينَ



“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (2)Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (3)


Tak terkecuali Sa’ad. Allah swt memberikan Sa’ad ujian yang luar biasa berat. Ujian ini datang melalui Ibunya. Saat Ibunya mendengar bahwa sang anak telah masuk Islam, ia sangat khawatir, dikarenakan orang-orang yang telah masuk Islam berasal dari kalangan miskin dan para budak, para pembesar-pembesar Quraisy tidak akan segan-segan menyiksa bahkan membunuh mereka. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran pertama Ibunda Sa’ad. Ia kemudian meminta Sa’ad untuk kembali ke Agama dan kepercayaan nenek moyang. Sa’ad menolak dengan halus sambil berkata “Sungguh aku telah menemukan kebenaran wahai Ibunda, dan aku takkan meninggalkan Agama Islam walau apapun yang terjadi.” Ibunya yang memiliki watak keras kepala dan keras pendirian kemudian melakukan cara lain agar Sa’ad keluar dari Agama Islam. Ibunya mengetahui bahwa Sa’ad adalah anak yang berbakti semenjak kecil, ia sangat mencintai Ibunya dan pasti akan sangat khawatir apabila terjadi sesuatu pada Ibunya. Maka ia berkata kepada Sa’ad “ Wahai Sa’ad, Sungguh aku akan berpuasa dan takkan berbuka hingga kau keluar dari Agama Muhammad dan meninggalkannya.” Maka sang Ibupun benar-benar meaksanakan apa yang diucapkannya. Ia menahan haus dan lapar berhari-hari, Sa’ad sebagai anak yang berbakti terus menerus menawarinya makan dan Ibunya terus menerus menolaknya.

Namun hal ini tidak menggoyahkan Iman Sa’ad. Sa’ad berkata, “Wahai Ibunda, sesungguhnya saya sangat mencintai ibunda, namun saya lebih mencintai Allah dan RasulNya. Demi Allah! Seandainya Ibunda memiliki seribu nyawa, dan Allah mencabutnya satu per satu dari tubuh Ibunda untuk memaksaku keluar dari Agama Islam, sungguh aku tidak akan meninggalkan Islam sebagai Agama.”

Melihat kesungguhan Sa’ad, akhirnya Ibunyapun mengalah dan kemudian menerima Hidayah Allah swt. Berkenaan dengan hal ini Allah menurunkan ayat yang menjelaskannya, yaitu surat Luqman ayat 14-15 :


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ



وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي



وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ






وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي




مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا




فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ



ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(15)
Sebagai seorang pemuda yang sangat mahir dalam memanah, Sa’ad tidak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan. Dalam perang Badar, Sa’ad berangkat menuju medan laga bersama adiknya Umair. Umair saat itu masih remaja dan belum beberapa lama mencapai Aqil Baligh, sehingga beberapa sahabat beranggapan bahwa ia tidak layak mengikuti peperangan. Namun dengan bantuan dari Sa’ad, Umair meminta izin kepada Nabi Muhammad agar dapat mengikuti peperangan pertama dalam Islam ini. Ia menangis agar dapat ikut berjihad, Akhirnya Rasulpun mengizinkan.

Seusai peperangan, Sa’ad pulang ke Madinah seorang diri bersama seluruh sisa pasukan Umat Islam yang memenangkan peperangan. Sedangkan Umair tercatat sebagai salah seorang Syuhada yang gugur di Badar. Itu adalah peperangan pertama Umair, sekaligus terakhir baginya dalam Islam.
Tatkala perang Uhud meletus, tak ketinggalan pula Sa’ad beserta Busur dan panahnya. Perang berkecamuk hingga titik dimana Umat Islam hampir memenangkan peperangan, hingga pasukan pemanah yang ditempatkan Rasul di bukit yang tinggi dapat melihat Ghanimah(Harta Rampasan) yang bergeletakan di medan perang. Mereka berbondong-bondong turun untuk memperebutkannya, hingga hanya tesisa beberapa orang saja di atas bukit yang mematuhi perintah Rasul agar tidak meninggalkan pos mereka. Salah satu dari yang bertahan tersebut ialah Sa’ad.

Melihat hal ini, komandan pasukan berkuda musuh, Khalid Bin Walid, tanpa ragu mengambil kesempatan untuk mengitari bukit yang tidak dijaga dan menyerang Kaum Muslimin yang lengah dengan Ghanimah. Serangan ini bahkan menyebabkan Rasulullah kehilangan penjagaan dan terkena panah di rahangnya. Saat itu hanya sejumlah kecil kaum Muslimin yang melindungi Rasulullah saw termasuk Sa’ad di dalamnya, dengan kemahiran memanahnya ia mengusir musuh satu-persatu hingga menjauh dari Rasulullah saw. Saat itu bahkan Rasulullah sempat menjamin anak-anak panah Sa’ad dengan Ibu-Bapaknya. Rasul berkata, “ Panahlah hai Sa’ad! Ayah-Ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Dengan prestasi dan keahliannya dalam berbagai pertempuran yang pernah diikutinya, ia kemudian diangkat sebagai Panglima tertinggi Umat Islam dalam peperangan Qadisiyah pada masa kepemimpinan Khalifah Umar r.a. Ia memimpin sekitar 30.000 pejuang Muslim. Di dalamnya terdapat 99 pejuang yang pernah mengikuti Perang Badar, sekitar 319 Sahabat yang ikut dalam Bai’atur Ridhwan, 300 pahlawan yang ikut membebaskan kota Makkah, serta 700 lebih Putra-putra para sahabat.

Khalifah Umar r.a sebelum mengirimkan Sa’ad ke medan perang sempat menasihatinya, “Hai Sa'ad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah, dan sahabat beliau. Sesungguhnya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Sa'ad! Sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seorangpun melainkan dengan mentaati-Nya. Segenap manusia sama di sisi Allah, baik ia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah Rabb mereka, dan mereka semuanya adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berlebih-berkurang karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikan cara Rasulullah yang engkau telah ketahui, maka tetaplah ikuti cara beliau itu". Dengan berbekal nasihat dari sang Khalifah, maka berangkatlah ia dan pasukannya ke Medan Jihad.

Sesampainya di dekat medan Jihad, Sa’ad memerintahkan seluruh pasukannya untuk bersiaga dan bersiap-siap akan peperangan yang begitu dahsyat. Ia saat itu sedang menderita sakit, yang membuatnya sulit untuk berdiri dan menderita jika berbaring. Ia hanya dapat mengkomandoi pasukannya dari anjungan tempat peristirahatannya. Dengan suaranya yang berwibawa ia mengobarkan semangat Jihad pada psukannya, hingga akhirnya runtuhlah pasukan Persia dibawah kepemimpinannya. Sebelum wafatnya, Sa’ad masih sempat memimpin beberapa pertempuran yang dimenangkannya.

Menjelang wafatnya, ia meminta keluarganya untuk mengkafaninya hanya dengan jubah yang lusuh, ia berpesan kepada keluargnya, “Kafanilah aku dengan kain ini, sungguh aku mendapatkannya pada perang badar, dan aku ingin bertemu Allah denga kain ini.”

Pada tahun 54 H wafatlah sang pemanah pertama dalam Islam. Umat Islam kehilangan seorang panglima pemberani yang telah dijamin Allah dengan surgaNya. Selamat jalan wahai pahlawan perang Uhud, selamat jalan wahai Paman Rasulullah.

Sumayyah

~Syahidah Pertama Dalam Islam~


Sebelum Nabi Muhammad saw lahir, tersebutlah seseorang dengan nama Yasir bin Amir. Ia adalah seor an g musafir yang datang jauh dari negeri Yaman dan menetap di kota Makkah. Kota Makka h yang saat itu adalah kota yang sangat sering didatangi oleh pedagang dan pengunjung yang ingin beribadah k e Ka’bah, merupakan kota yang sangat ramai dan makmur.
Yasir menetap di Makkah beberapa lama sambil menjalin persahabatan dengan Abu Hudzaifah bin Mughirah, seorang saudagar Makkah yang cukup kaya. Seiring berjalannya waktu, Abu Hudzaifah sanga t mempercayai Yasir, sehingga ia mengizinkan Yasir untuk menikahi salah seorang budak perempuan yang dimilikinya yang bernama Sumayyah, dengan mahar yang sangat murah.
Kehidupan yang dijalani oleh Sumayyah dan suaminya dipenuhi dengan kesederhanaan yang disertai dengan cinta kasih. Beberapa tahun kemudian, lahirlah Ammar bin Yasir. Abu Hudzaifah yang saat itu masih merupakan majikan Sumayyah mengahadiahi pasangan suami-istri itu dengan hadiah yang luar biasa, yaitu kemerdekaan Sumayyah. Maka sempurnalah kebahagiaan keluarga itu.



Sumayyah mendidik Ammar kecil dengan cinta kasih, yang disertai dengan budi pekerti yang baik. Sehingga Ammar tumbuh menjadi anak yang berbudi baik dan sederhana.
Ketika Ammar beranjak dewasa, tersebarlah rumor dikalangan warga miskin di Makkah, bahwa Muhammad bin Abdullah membawa agama baru. Ammar yang saat itu berjiwa muda, sangat ingin tahu akan hal ini. Ia tahu bahwa Muhammad bukanlah orang yang suka asal bicara atau berbohong seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Setelah mengikuti majelis yang diadakan Rasulullah saw di rumah keluarga Arkam, Ammar merasa tentram dan sama sekali tidak ada perasaan yang membuatnya khawatir atau curiga terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muha mmad saw.
Maka pulanglah Ammar dengan dipenuhi hidayah di hatinya. Sesampainya di rumah, ibunya bertanya tentang apa yang dilakukannya hingga pulang larut malam. Sumayyah dan Yasir yang saat itu masih musyrik sangat khawatir dengan keberadaan Nabi Muhammad, yang memang dekat dengan orang-orang miskin. “Apa yang baru saja kau kerjakan diluar sana? Sungguh kami sangat khawatir akan keberadaan Muhammad disisi kalian para pemuda.” Tanya Sumayyah. “Sungguh Ibunda, seperti yang sudah kau ketahui selama ini, bahwa tiadalah seorang yang lebih jujur dan terpercaya selain Muhammad di Makkah ini. Dan hanya karena para pembesar-pembesar Quraiys berbicara yang tidak benar terhadapnya, apakah ia akan menjadi seorang pendusta dimatamu hai Ibunda?.” Jawab Ammar. “. “ Tapi Ammar, bukankah apa-apa yang diajarkan Muhammad bertentangan dengan ajaran nenek moyang kita?” giliran Yasir yang membrondongnya dengan pertanyaan. Dengan tenang Ammar menjawab lembut, “Sungguh, tiadalah ajaran yang kau ajarkan wahai ibunda, serta keteladanan yang kau contohkan wahai ayahanda, yang tidak dibenarkan dan diserukan oleh Muhammad, selain daripada yang mengandung kesyirikan pada Allah. Apakah memberi makan orang miskin dan memelihara anak-anak yatim adalah perbuatan dosa? Apakah berlaku baik terhadap sesama manusia baik ia budak ataupu n jiwa merdeka ialah perbuatan dosa? Karena hal-hal inilah yang beliau ulang-ulang dan ajarkan kepada kami. Dari apa yang diwahyukan Allah kepadanya melalui malaikatNya.”. Ayahnya kembali bertanya “Tapi Ammar, aku dengar ia juga mengajarkan bahwa wanita sama derajatnya dengan pria? Benarkah hal it u?”. Ammar menjawab “ Wahai ayah, sungguh disisi Allah semua manusia sama derajat nya, yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya, sehingga seorang wanita yang beriman bahkan bisa menjadi lebih mulia daripada seorang pria yang musyrik, dan bukankah Siti Hawa adalah seorang wanita serta Maryam binti Imran adalah wanita? Tidakkah mereka a dalah wanita-wanita mulia. Dan ingat ayah, i bumu dan ibuku adalah wanita, dan tiadalah seorang wanita yang kumuliakan lebih dulu daripada ibuku.”
Setelah dialog itu, maka bersama-sama keluarga Yasir mendatangi Rasulullah saw dan menyatakan keislaman mereka. Semenjak itu keluarga Yasir dikenal sebagai orang-orang awal yang masuk Islam.
Para pembesar-pembesar Quraisy saat itu mulai melihat dampak yang ditimbulkan oleh dakwah Nabi Muhammad. Beberapa orang Quraisy yang terpandang mulai masuk Islam. Salah seorang gembong Quraisy ya ng sangat membenci Islam adalah Abu Jahal. Ia akan melakukan apa saja agar orang-orang yang telah masuk Islam kembali ke agama yang dulu, yakni menyembah berhala.
Cara-cara yang dikerjakan oleh Abu Jahal dan pembesar-pembesar Quraisy lainnya beragam, tergantung kepada siapa orang Islam tersebut, jika ia dari kalangan orang-orang terpandang di Makkah, maka mereka hanya akan melakukan gertakan-gerktakan seadanya. Sedangkan untuk kalangan miskin dan para budak, akan dilakukan cara-cara yang sangat kasar dan tanpa ampun.
Keluarga Yasir adalah keluarga miskin yang senantiasa menderita kekejaman daripada para pembesar-pembesar Quraisy. Mereka diikat di suatu daerah di gurun yang panas dan didera dengan cambukan-cambukan. Bahkan Ammar sempat dibakar hidup-hidup, saat itu Rasulullah lewat dan mengusap-usap kening Ammar sambil berkata, “Hai api, menjadi dinginlah, sebagaimana kau menjadikan dirimu sejuk untuk Ibrahim!”
Siksaan dan aniaya menjadi makanan sehari-hari keluarga Yasir. Sampai suatu ketika Ammar disiksa oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya, ia disiksa sedemikian rupa hingga tak sadarkan diri dan mengucapkan kata-kata kekafiran. Hal ini diketahui oleh para sahabat dan dilaporkan kepada Nabi. Esoknya Nabi bertanya kepada Ammar, ia mengakuinya, namun ia tidak sungguh-sungguh mengatakannya, ia mengatakannya semata-mata untuk menghindari penindasan lebih lanjut. Hal ini kemudian dibenarkan oleh Rasulullah saw dengan wahyu dari Allah :

مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَـكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ



Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (An-Nahl : 106)

Lain halnya dengan sang anak, Sumayyah justru malah menantang Abu Jahal. Melihat Sumayyah melakukan hal itu, Abu Jahal semakin marah sehingga menusuk dada Sumayyah dengan tombak. Maka gugurlah ia sebagai syahidah pertama dalam Islam. Hal serupa terjadi pada Yasir, ia dibunuh oleh Abu Jahal beberapa saat sebelum Sumayyah. Keduanya gugur dalam keadaan dipenuhi keimanan. Tercatatlah keduanya di dalam daftar para penghuni surga. Hal ini dibenarkan oleh Nabi dengan sabdanya, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Bersabarlah! Sesungguhnya balasan kalian adalah surga.”
Sungguh telah harum bumi ini dengan darah seorang syahidah di awal pertumbuhan Islam. Seorang tokoh yang menjadi pecut bagi para Muslimah di seluruh dunia agar berlomba-lomba mencari syahid. Hal ini juga membuktikan bahwa seorang Muslimah-pun dapat menggapai syahid dengan ketegaran dan keistiqomahannya di jalan Allah.



Wallahu a’lam bish-shawwab………

Abdullah bin hudzafah

~Penebus Tawanan Muslim~

Abdullah bin hudzafah adalah salah seorang sahabat nabi yang beruntung lantaran pernah menemui dua orang raja besar di zamannya, yaitu Kisra, raja negeri Persia dan Kaisar Agung, raja negeri Romawi. Pertemuan Abdullah dengan kedua raja tersebut diabadikan dalam sejarah dan mewarnai sejarah itu sendiri.
Pertemuan Abdullah dengan Kisra, Raja Persia terjadi pada tahun keenam Hijriyyah, yaitu ketika Rasulullah mulai mengembangkan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Ketika itu beliau berdakwah melalui surat kepada raja-raja 'Ajam (non arab) untuk mengajak mereka masuk Islam.
Rasulullah Sallallahu Alahi wa sallam telah memperhitungkan resiko yang akan timbul dari cara berdakwah ini. Para utusan harus pergi ke pelosok negeri yang belum mereka kunjungi dan bahkan belum mereka kenal. Mereka sama sekali tidak mengetahui sosial dan budaya serta pemerintahan di daerah yang mereka datangi tersebut. Tetapi mereka harus menemui pemimpin daerah tersebut dan mengajaknya masuk Islam. Ini memang cara berdakwah paling efektif namun sangat beresiko. Paling efektif karena jika sang pemimpin yang didatangi akhirnya memeluk agama Islam, maka diperkirakan rakyatnya juga akan memeluk agama ini, namun sangat beresiko jika sang pemimpin menolak agama ini, maka utusan tersebut dapat disiksa dan bahkan mungkin dibunuh.
Untuk melaksanakan tugas ini, Rasulullah menunjuk enam orang sahabat yang berangkat menemui raja-raja arab dan non arab. Salah seorang diantara mereka adalah Adullah bin Hudzafah. Ia mendapat tugas untuk menemui raja Kisra Abrawiz, Raja Persia.
Abdullah menempuh perjalanan seorang diri, ia meninggalkan keluarganya di rumah yang dititipkannya kepada Allah swt, setelah menempuh perjalan panjang dan melelahkan, akhirnya Abdullah bin Hudzafah tiba di Ibukota Persia. Dengan sedikit masalah ia akhirnya dapat menemui raja Kisra, ia menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan Islam dan dalam hatinya menyala cahaya iman.
Tatkala Kisra melihat Abdullah menghadap, ia memberi isyarat kepada salah seorang pengawal untuk mengambil surat dari tangan Abdullah. Tetapi Abdullah menolak dengan berkata, "Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung ke tangan raja Kisra tanpa perantara. Aku tidak ingin menyalahi perintah Baginda Rasulullah."
"Biarkan ia mendekat kepadaku!" jawab Kisra dengan hati marah. Ia menerima surat itu dan memerintahkan seorang sekertarisnya untuk membacakan isinya:
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad Rasulullah, kepada Kisra Abrawiz Raja Persia.
Berbahagialah bagi yang mengikuti petunjuk….."
Baru sampai disitu sekertaris membaca surat, api kemarahan menyala di dada Kisra. Mukanya merah dan urat lehernya membesar. "Kurang ajar, beraninya dia menulis namanya lebih dahulu dari namaku. Padahal ia adalah budakku," umpat Kisra geram. Surat yang dibaca sekertarisnya itu ia sambar dan ia robek-robek. Lalu diperintahkan pengawalnya untuk mengusir Abdullah dari ruang pertemuan.
Abdullah bin Hudzafah kemudian keluar dari ruang pertemuan tersebut. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya, mungkin akan dibunuh atau dibiarkan hidup. "Demi Allah, aku tidak perduli dengan apa yang terjadi selanjutnya, yang penting aku telah menyampaikan amanah yang Rasulullah berikan kepada orang yang sepatutnya menerimanya," ujar Abdullah dalam hati. Kemudian dengan sigap ia menaiki kuda yang ia bawa dan memacunya dengan cepat.
Sementara itu setelah kemarahan Kisra agak mereda, ia menyuruh pengawalnya untuk memanggil kembali Abdullah bin Hudzafah. Tetapi Abdullah sudah tidak ada di tempat. Pengawal mencarinya kemana-mana mereka mencarinya sampai memasuki Jazirah Arab namun mereka tak dapat menemukan Abdullah bin Hudzafah karena sudah terlalu jauh untuk menyusulnya.
Setibanya dihadapan Rasulullah, Abdullah bin Huzafah segera menceritakan segala apa yang dialaminya selama melaksanakan tugas dari beliau. Kemudian Rasulullah setelah mendengarnya, ia bersabda : "Semoga Allah merobek-robek kerajaannya pula!"
Karena tidak berhasil menangkap Abdullah bin Hudzafah, kemarahan raja Kisra semakin menjadi-jadi. Ia segera mengirim surat kepada salah seorang wakilnya yang berada di Yaman bernama Badzan. Ia memerintahkan supaya menangkap dan membawa Rasulullah ke hadapannya.
Badzan segera melaksanakan perintrah Kisra tersebut. Ia mengirim dua orang utusan untuk menghadapa Rasulullah dan memberikan sepucuk surat yang berisi bahwa beliau diminta menghadap Kisra di Persia bersama dua orang utusan tersebut dengan cepat. Ia juga memerintahkan kepada kedua orang tersebut agar menyelidiki dengan seksama dimana Rasulullah berda dan melaporkannya sewaktu-waktu.
Maka berangkatlah kedua utusan itu menghadap Rasulullah. Setelah sampai di Madinah, mereka segera bertemu Rasulullah. Salah seorang utusan berkata: "Badzan mendapat perintah dari Baginda Kisra untuk mengutus kami menemui anda. Baginda menginginkan agar kami membawa anda kepada beliau, jika anda berkenan, maka itu adalah sebaik-baiknya bagi anda. Karena jika anda menolak, maka anda telah mengetahui betapa berkuasanya Baginda untuk membinasakan anda.!". Mendengar ucapan seorang utusan tersebut, Rasulullah tersenyum. Kemudian beliau berkata, "Sebaiknya, Tuan-tuan beristirahatlah dahulu. Besok Tuan-tuan boleh kembali lagi kemari."
Keesokan paginya, kedua utusan datang kembali menghadap Rasulullah sesuai dengan janji. "Sudah siapkah anda berangkat bersama-sama dengan kami untuk menemui Baginda Kisra?" tanya salah seorang dari mereka. "Tuan-tuan tidak bisa lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini. Karena Kisra telah dibunuh oleh anaknya Syirwan pada pukul sekian, detik sekian, hari sekian, bulan sekian." jawab Rasulullah.
Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah dengan mata terbelalak keheranan. "Sadarkah anda dengan apa yang anda ucapkan?" Tanya mereka. "Bolehkah kami menulis apa yang anda ucapkan itu untuk Badzan?"
"Silakan, bahkan Tuan-tuan boleh menambahkan, Bahwa agamaku akan menguasai seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada dibawah kekuasaannya akan saya berikan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri akan kuangkat menjadi raja bagi rakyatnya." jawab Rasulullah.
Kedua utusan itu meninggalkan Rasulullah dengan bingung. Kemudian ketika mereka menghadap kepada Badzan, mereka menceritakan tentang pesan Rasulullah. Kemudian Badzan berkata "Apabila apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sungguh dia seorang Nabi. Dan apabila yang dikatakannya itu salah, maka ia hanya bermimpi belaka."
Tidak lama kemudian, datanglah surat dari Persia. Surat itu ditulis oleh Syirwan, anak raja Kisra. Surat itu berisi: "Kisra telah saya bunuh. Saya terpaksa melakukannya karena ia telah menindas rakyat. Para bangsawannya kami musnahkan. Wanita-wanitanya kami tangkap. Harta benda mereka kami rampas. Apabila kamu telah membaca surat ini maka hendaklah kamu tunduk kepadaku!"
Selesai membaca surat itu Badzan kemudian mengumumkan bahwa mulai hari itu ia memeluk agama Islam. Maka berbondong-bondong para Pembesar dan Bangsawan Persia di Yaman memeluk agama Islam.
Itulah kisah pertemuan antara Abdullah bin Hudzafah dengan raja Kisra dari Persia. Sedangkan pertemuannya dengan Kaisar Romawi terjadi pada masa keKhalifahan Umarbin Katthab Al-Faruq. Kisahnya cukup menarik dan mengagumkan.
Kaisar Romawi telah mengetahui keunggulan pasukan Muslim dan keimanan mereka. Bagaiman mereka dapat bertempur hanya menggunakan pedang tanpa baju baja. Maka ketika terjadi peperangan antara Romawi dengan Muslimin, sang Kaisar memerintahkan agar jika mendapat tawanan Muslim, jangan dibunuh. Tetapi bawa ke hadapan Kaisar.
Ditakdirkan Allah, Abdullah bin Hudzafah adalah salah seorang tawanan yang tertangkap, maka dibawalah ia mengahadap Kaisar Romawi saat itu. Setelah agak lama memperhatikan Abdullah, sang Kaisar berkata: "Aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu.". "Apa yang hendak anda tawarkan?" tanya Abdullah tenang.
"Maukah kamu masuk agama Nasrani? Jika mau maka kau akan aku bebaskan dan akan aku berikan harta yang banyak." Kata Kaisar. Abdullah menarik nafas dalam-dalam, kemudian menjawab, "Aku lebih baik mati seribu kali daripada menerima tawaran anda."
Kaisar tersenyum, kemudian ia berkata lagi "Saya lihat kamu seorang perwira yang pintar, maka jika kamu mau menerima tawaranku, maka akan aku tambahkan dengan kuangkat kau menjadi pembesar kerajaan dan kau akan aku beri kekuasaan." .
Abdullah yang masih dalam keadaan diborgol balas tersenyum. "Demi Allah, jika seandainya kau memberikan kepadaku seluruh kerajaan ini dan ditambah dengan seluruh kerajaan di tanah arab ini, agar aku keluar dari agama Muhammad sekejap mata saja, aku tetap tidak akan menerimanya."
"Kalau begitu, engkau akan aku bunuh!" jawab Kaisar marah.
"Silahkan, anda lakukan apa yang anda inginkan!" jawab Abdullah tenang.
Tubuh Abdullah kemudian diikat diatas sebuah kayu salib. Kemudian diperntahkan seorang pemanah untuk memanah lengan Abdullah. Setelah itu Kaisar bertanya, "Bagaimana? Apakah kamu ingin masuk agama Nasrani?"
"Tidak!" jawab Abdullah mantap.
"Panah kakinya!" Perintah Kaisar.
Maka meluncurlah sebuah panah lau menancap di kakinya.
"Maukah kau berpindah agama?" tanya Kaisar membujuk.
Abdullah tetap menolak.
Karena tidak berhasil juga, maka Abdullah diturunkan dari kayu salib. Kemudian diperintahkan kepada pengawal untuk membawa sebuah kuali besar untuk mendidihkan minyak. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta dibawakan dua orang tawanan Muslim. Seorang dari mereka di ceburkan ke dalam kuali. Sebentar kemudian daging orang tersebut hancur, lalu muncullah tulang belulangnya.
Kaisar menoleh kepada Abdullah dan membujuknya agar masuk ke agama Nasrani. Tetapi Abdullah menolak lebih keras. Kaisar akhirnya putus asa. Diperintahkanny agar Abdullah dicemplungkan ke dalam kuali itu. Ketika pengawal sedang menggiring Abdullah ke depan kuali, Abdullah menangis.
Kaisar mengira bahwa Abdullah menagis karena takut mati. "Bawa ia kembali ke hadapanku!" perintah Kaisar. Ternyata dugaannya salah. "Kurang ajar, Kalau begitu mengapa kamu menagis?" tanya Kaisar.
"Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul, aku ingin mati di medan pertempuran jihad fi sabilillah. Ternyata kini aku akan mati konyol dalam kuali." Jawab Abdullah
"Kalau begitu, maukah kau mencium kepalaku?" tanya Kaisar. "Kalau mau, kau dan seluruh tawanan yang lain akan aku bebaskan." Kata sang Kaisar dengan angkuh.
"Aku beserta seluruh kawan-kawan akan bebas?" tanya Abdullah.
"Ya, saya bebaskan kamu dan seluruh tawanan Muslim."
Abdullah berfikir sejenak, "Aku harus mencium kepala musuh Allah lalu aku dan seluruh kawan-kawan Muslim akan bebas! Ah, tidak ada ruginya!" ujar Abdullah dalam hati. Lalu ia menghampiri Kaisar, dan mencium kepala musuh Allah itu.
Kaisarpun memerintahkan seluruh pengawal untuk mengumpulkan seluruh tawanan Muslim agar dibebaskan dan diserahkan kepada Abdullah bin Hudzafah. Setibanya ia di hadapan Khalifah Umar bin Khattab, ia kemudian menceritakan seluruh pengalamannya dan memperlihatkan tawanan yang berhasil dibebaskannya. Kemudian setelah mendengar cerita Abdullah dan melihat para tawanan Muslim, Khalifahpun berkata, "Maka, sepantasnyalah setiap orang Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah. Nah, aku yang memulai." Iapun berdiri dan mencium kepala Abdullah bin Hudzafah.

 free web counter Counter Powered by  RedCounter

About this blog

Semoga media ini bisa menambah timbangan amalku di akhirat kelak, Amiin Ya Rabbal 'alamiin. kirimkan kritik dan saran ke alamat penjagaquran@gmail.com

Buletin Jum'at

Fatwa Rasulullah

Doa dan Dzikir Rasululah SAW

Biografi Tokoh

1 day 1 ayat

Download


ShoutMix chat widget
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku