Tampilkan postingan dengan label Ulama Salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama Salaf. Tampilkan semua postingan

Menurut Riwayat Sunni: Allah Segera Mengutus Jibril as. Membawa Ayat al Qur’an Mendukung Gaya Hubungan Badan Kegemaran Sayyidina Umar!

Allah SWT Selalu Menuruti Kehendak Sayyidina Umar
Penguasa bani Umayyah dan bani Abbas tak henti-hentinya berusaha ngotot menampilkan Sayyidina Umar sebagai sosok pribadi agung yang selalu disanjung Allah SWT….dan diserahi tugas mengontrol, mengarahkan dan  menegur bahkan memerintah dan melarang Nabi pilihan-Nya Muhammad saw. setiap kali beliau melanggar atau menyebrang dari jalan Allah!
Setiap kali Nabi mulia saw. menyalahi Sayyidina Umar dan tidak menuruti kehendaknya, Allah segera mengutus Jibril membawa ayat teguran pedas bahkan tidak jarang juga disertai ancaman keras akan menyiksa beliau saw.
Kisah-kisah konyol pengagungan Sayyidina Umar yang disertai penghinaan kepada Nabi mulia saw. itu disebut oleh ulama Ahlusunnah dengan istilah muwafaqâtu Umar/kesesuaian Umar dengan Allah atau keserasian kehendak Allah dengan apa yang dimaukan Umar!
Para ulama Ahlusunnah begitu antusias membangun keyakinan dan juga hukum atas nama Islam dengan mendasarkannya kepada riwayat-riwayat muwafaqâtu Umar kendati riwayat-riwayat tentangnya adalah palsu –seperti telah dibuktikan para ulama dan juga sangat menghina Nabi saw. dan sangat membahayakan keyakinan akan kesucian Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang diturunkan atas Nabi pilihan-Nya…. Namun kecintaan mereka kepada Sayiidina Umar telah membutakan mata hati dan menulikan telinga serta mematikan sikap sensitifitas mereka demi membela kehormatan Nabi mulia Muhammad saw.
Dalam kesemptan ini, saya tidak akan menyebutkkan Anda dengan meneliti riwayat-riwayat muwafaqâtu Umar yang konyol itu… tetapi saya ajak Anda menyaksikan bagaimana para ulama Ahlusunnah itu sedemikian rupa menyanjung Sayyidina Umar sehingga apapun yang ia lakukan selalu dilegalkan dan didukung serta disembadani Allah SWT… apa yang menjadi kegemaran Sayyidina Umar, Allah pasti segera menurunkan Jibril-Nya untuk membawakan ayat Al-Qur’an melegalkan yang yang menajdi kegemaran Sayyidina Umar… tidak terkecuali kegemarannya dalam melampiasakan syahwat birahinya di ranjang dengan istri terkasihnya…(ma’af  ini menurut riwayat sunni) Allah segera menurunkan ayat Al-Qur’an untuk memberkahi gaya seks Sayyidina Umar yang kata ulama Ahlusunnah, semua gerak-gerik dan tutur katanya menjadi cerminan kehendak Allah dan Allah selalu mengawalnya dengan dua malaikat yang membimibingnya kepada kebaikan dan kebenaran sejati…
Umar Gemar Mendatangi Istrinya dari Belakang Dan Allah pun Segera Mendukungnya!
Sampai-sampai untuk gaya seks dan senggama kegemaran Sayyidina Umar pun terpaksa Allah segera menurunkan ayat suci Al-Qur’an-Nya untuk menurutinya… Allah tidak ingin mengecewakan Sayyidina Umar!
Jalaluddin as-Suyuthi meriwayatkan dari Imam Ahmad, Abdu ibn Humaid, at Turmduzi dan ia menilainya sebagai hadis hasan, an Nasa’i, Abu Ya’la, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hâtim, Ibnu Hibbân, ath Thabarani, dan al Kharâithi dalam kitab Masâwi’ul Akhlâq, al Baihaqi dalam Sunan-nya dan adh Dhiyâ’ al Maqdisi dalam al Mukhtârah-nya dari sahabat Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Umar datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, ’Wahai Rasulullah, aku telah celaka.’ Apa yang menyebabkamu celaka? Tanya Nabi saw. Umar menjawab, ‘Aku balik tungganganku[1] tadi malam (maksudnya aku datangi ia dari belakang).
Nabi terdiam tidak memjawabnya. Maka segera Allah mewahyukan kepada rasul-Nya ayat:
.

ِنِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَ قَدِّمُواْ لِأَنْفُسِكُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْا أَنَّكُمْ مُّلاَقُوْهُ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Istri-istrimu adalah ladang (benih) kalian. Maka, datangilah ladang kalian itu kapan pun dan di mana pun kalian kehendaki, dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.(QS. Al Baqarah;223)
Nabi saw. bersabda, “Datangi istrimu dari depan atau dari belakang tetapi hindarinya lubang dubur dan di saat ia datang bulan.”[2]
Tentunya setelah itu Sayyidina Umar menjadi legah dan tidak lagi gelisah serta dihantui rasa takut melakukannya lagi sebab ternyata Allah pun segera melegalkan apa yang menjagi kegemaran beliau ra.
Demikianlah Anda saksikan bagaimana Allah segera menurunkan ayat yang melegalkan kegemaran sayyidina Umar dan mengusir kegelisahannya… dan karena beliau adalah seorang dari Khulafa’ Rasyidin yang wajib diikuti dan yang sunnahnya disejajarkan dengan sunnah Nabi mulia saw., maka adalah sunnah juga beriqtidâ’/meneladani Sayyidina Umar dalam segala urusan termasuk yang satu ini…. sebagai bukti kesetiaan kepada beliau ra.

[1] Kata al Mubarakfûri, Sayyidina Umar memilih kata tersebut sebagai kata pinjam untuk menunjuk istrinya. Maksudnya Umar ia mendatangi istrinya dari belakang walaupun ia memasukkannya di qubul. Pemaknaan itu baik, walaupun terus terang tidak ada bukti dari teks itu sendiri… sebab teksnya mengatakan bahwa sayyidina Umar membalik tunggangannya, tidak ada sebutan bahwa ia berhubungan badan dengan mendatangi istrinya di lubang depan… Lagi pula jika  ia yang lakukan, mestinya ia tidak perlu khawatir dan takut celaka… sebab ia sah-sah saja. Allah A’lam. Namun yang pasti apa yang dilakukan sayyidina Umar ini telah membawa keberkahan dengan diturunkannya ayat yang menjelaskan hukum  masalah ini…. Dan kita pun mengerti bepata besar perhatian Allah sehingga apa yang menjadi kegemaram Sayyidina Umar segera dilegalkan secara syar’i.

Pembunuh Imam Husain Itu Kaum Nawâshib. Bukan Syi’ah!

Sering kita dengar dari para pembela bani Umayyah yang gencar melakukan permusuhan kepada para pengikut Ahlulbait Nabi as., bahw kaum Syi’ah telah mengkhianati Imam Husain as. dan kemudian mereka membantai secara keji Imam mereka sendiri! Karenanya, -masih kata musuh-musuh Ahlulbait as.- kaum Syi’ah sekarang menyesali pengkhianatan para Salaf mereka dan meratapi Imam Husain as. setiap bulan Muharram datang!
Para pembenci Ahlulbait as. yang getol memusuhi Syi’ah itu selalu menjadikan Ibnu Tamiyah; Syeikhul Islam mereka sebagai idola dan panutan dalam menghujat Syi’ah.
Nah, sekarang mari kita simak apa kata Ibnu Tamiyah, Syeikhul Islamnya kaum Nawâshib/pembenci Ahlulbait Nabi as. tentang siapa yang membunuh Imam Husain as. di karbala?
Ketika membantah kritikan tajam Ulama Syi’ah bernama Allamah Ibnu Mutahahhar Al Hulli, yang menghujat Ahlusunnah yang bersemangat menyematkan gelar Ummul Mukminin hanya untuk Aisyah seorang. Ibnu Taimyah berkata:

فصل:
قال الرافضي : وسمّوها أم المؤمنين ولم يسموا غيرها بذلك ولم يسموا أخاها محمد بن أبي بكر مع عظم شأنه وقرب منزلته من أبيه وأخته عائشة أم المؤمنين فلم يسموه خال المؤمنين وسموا معاوية بن أبي سفيان خال المؤمنين لأن أخته أم حبيبة بنت أبي سفيان إحدى زوجات النبي صلى الله عليه وسلم وأخت محمد بن أبي بكر وأبوه أعظم من أخت معاوية ومن أبيها

والجواب : أن يقال أما قوله إنهم سموا عائشة رضي الله عنها أم المؤمنين ولم يسموا غيرها بذلك, فهذا من البهتان الواضح الظاهر لكل أحد ، وما أدرى هل هذا الرجل وأمثاله يتعمدون الكذب ، أم أعمى الله أبصارهم لفرط هواهم حتى خفى عليهم أن هذا كذب ، وهم ينكرون على بعض النواصب أن الحسين لما قال لهم أما تعلمون أني ابن فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا والله ما نعلم ذلك وهذا لا يقوله ولا يجحد نسب الحسين إلا متعمد للكذب والافتراء ومن أعمى الله بصيرته باتباع هواه حتى يخفى عليه مثل هذا فإن عين الهوى عمياء .

والرافضة أعظم جحدا للحق تعمدا وأعمى من هؤلاء فإن منهم ومن المنتسبين إليهم كالنصيرية وغيرهم من يقول إن الحسن والحسين ما كانا أولاد علي بل أولاد سلمان الفارسي ومنهم من يقول إن عليا لم يمت وكذلك يقولون عن غيره

ومنهم من يقول: إن أبا بكر وعمر ليسا مدفونين عند النبي صلى الله عليه وسلم .
ومنهم من يقول: إن رقية وأم كلثوم زوجتي عثمان ليستا بنتى النبي صلى الله عليه وسلم ولكن هما بنتا خديجة من غيره .

ولهم في المكابرات وجحد المعلومات بالضرورة أعظم مما لأولئك النواصب الذين قتلوا الحسين وهذا مما يبين أنهم أكذب وأظلم وأجهل من قتلة الحسين

“Pasal: Si Rafidhi berkata, “Dan mereka menamakan Aisyah Ummul Mukimin dan tidak menamai selainnya dengan nama itu. Mereka juga tidak menggelari Muhammad putra Abu Bakar dengan gelar Paman kaum Muslimin padahal ia sangat mulia dan dekat kedudukannya di sisi ayah dan saudarinya; Aisyah Ummul Mukminin. Sementara itu mereka mengelari Mu’awiyah dengan gelar Paman kaum Mukminin dengan alasan karena Ummu Habibah bintu Abu Sufyan saudarinya adalah seorang dari istri Nabi saw. Saudarinya Muhammad ibn Abu Bakar dan ayahnya lebih agung dari saudarinya Mu’awiyah dan ayahnya.
Jawab: Dikatakan di sini bahwa perkataannya bahwa mereka (Ahlusunnah) menamakan Aisyah ra. dengan sebutan Ummul Mukminin dan tidak menggelari istri-istri lainnya dengan gelar itu adalah sebuah kepalsuan nyata yang tampak bagi setiap orang. Aku tidak mengerti apakah orang itu dan yang semisalnya menyengaja berdusta atau Allah membutakan mata mereka karena hawa nafsu yang berlebihan sampai-sampai samar bagi mereka bahwa yang demikian itu adalah dusta?! Sementara itu mereka mengingkari terhadap sebagian orang Nawâshib bahwa ketika Husain berkata kepada mereka, “Tidakkah kalian mengetahui bahwa aku ini adalah putra Fatimah putri Rasulullah saw.?!” Lalu mereka menjawab, “Demi Allah kami tidak mengetahuinya!” yang demikian itu tidak mungkin mengatakannya dan tidak mungkin mengingkari nasab Husain kecuali orang yang menyengaja berdusta dan mengada-ngada. Dan barang sispa yang dibutakan Allah mata hatinya karena mengikuti hawa nafsunya, sehingga ia mengingkari yang demikian. Dan mata hawa nafsu itu buta!
Dan kaum Rafidhah lebih dahsyat pengingkarannya terhadap kebenaran dan lebih buta dibandingkan mereka (yang mengingkari nasab Husain). Di antara mereka (Rafidhah) adalah kaum Nushairiyah daan selainnya yang berpendapat bahwa Hasan dan Husain bukan putra-putra Ali, akan tetapi anak Salman al Farisi. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa Ali tidak mati… dan demikianlah pendapat-pendapat lain.
Dan di antara mereka ada yang berkata, “Abu Bakar dan Umar tidak dikebumikan di samping Nabi saw.”
Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ruqayyah dan Ummu Kultsum istri Utsman itu bukan putri Nabi saw. tetapi putri Khadijah dari suami lain.
Dan kaum Syi’ah punya sikap ngeyel dan menentang kebenaran pasti lebih dahsyat dari apa yang dilakukan kaum Nawâshib yang telah membunuh Husain. Dan ini adalah bukti bahwa mereka adalah paling pembohong, paling zalim dan lebih jahil dari para pembunuh Husain.”

Ibnu Jakfari Berkata:
Jadi jelaslah bagi kita semua sesuai apa yang dikatakan Syeikhul Islamnya kaum Salafi/Wahhâbi bahwa para pembunuh Imam Husain itu adalah kaum Nawâshib… bukan kaum Syi’ah seperti yang selama ini dilontarkan mulut kaum pembenci kebenaran dari kalangan Nawâshib dan antek-antek bani Umayyah, asy Syajarah al Mal’unah fil Qur’ân/pohon terkutuk dalam Al Qur’an!
Dan segala puji bagi Allah yang telah membukakan mulut Ibnu Taimiyah untuk mengucap kebenaran walaupun tidak ia kehendaki!
Atau jangan-jangan apa yang ditegaskan Ibnu Taimyah itu digolongkan para pemujanya sebagai ijtihad yang salah?!
Atau mungkin mere akan menuduhnya sebagai menggigau, yahjuru?!

Imam Syafi'i dan Gurunya, Imam Malik bin Anas

Betapa gembiranya Imam Malik karena mendapat seorang murid yang cerdas dan bijak seperti Syaf'i. Syaf'i semenjak kecil bukan saja telah hapal
seluruh isi al-Quran dan ribuan hadis Nabi s.a.w. malah beliau juga telah
hapal seluruh isi kitab Hadis Muwatta' karangan Imam Malik bin
Anas, sebelumnya Syaafi'i bertemu dengan Imam Malik. Imam Syafi'i membagi malam kepada tiga bahagian yaitu:
  • Sepertiga untuk Ilmu Pengetahuan
  • Sepertiga untuk sholat
  • Sepertiga untuk tidur
Rabi' menerangkan bahwa Imam Syafi'i setiap hari menamatkan al-Quran
sekali, tetapi dalam bulan Ramadhan seluruhnya enam puluh kali, dan
semuanya dibaca ketika menunaikan ibadah Sholat. Imam Syafi'i sendiri
menerangkan bahwa beliau belum pernah bersumpah seumur hidupnya, baik ketika membenarkan sesuatu ataupun mendustakan sesuatu. Pernah disatu ketika ada orang bertanyakan sesuatu masaalah kepada beliau. Ketika itu Imam Syafi'i mendiamkan diri sejenak tidak langsung menjawabnya. Ketika beliau disoal mengapa berbuat demikian, maka Imam Syafi'i menjelaskan: "Aku menunggu terlebih dahulu, sehingga aku mengetahui, mana yang lebih
baik aku diam ataupun menjawab pertanyaanmu."
Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i adalah orang yang sangat teliti dalam memberikan sesuatu fatwa, kepada seseorang yang bertanyakan sesuatu masaalah semasa.
Imam Syafi'i pernah mengatakan: "Pada suatu hari aku tidak punya uang sesenpun, sedangkan aku ingin benar menuntut Ilmu. Lalu aku pergi bekerja disebuah Dewan untuk mendapat sedikit belanja". Ini menunjukkan bahwa Imam Syafi'i tidak berdiam diri ketika menemui kesulitan dalam
keuangan, terutama ketika menuntut Ilmu, beliau bersedia bekerja apa saja
yang halal, asalkan saja cita-citanya tercapai.
Imam Ghazali pernah menceritakan bahwa Imam Syafi'i juga adalah seorang Tokoh penting dalam kehidupan Sufi. Ia seorang yang sangat Taqwa tidak ingin bermegah-megahan dalam hal apapun juga. Berkenaan Ilmu Sufi, Imam Syafi'i berkata: "Saya ingin manusia itu mempelajari Ilmu ini, tetapi janganlah menyebut-nyebut namaku, dengan sepatah kata juapun".
Diantara kata-kata yang bernilai sufi daripada Imam Syafi'i ialah:
 
  • Orang yang zalim kepada dirinya, ialah orang yang merendahkan dirinya kepada orang yang tidak memuliakannya dan orang yang menyukai sesuatu benda yang tidak memberi manfaat kepadanya, begitu juga orang yang menerima sesuatu pujian dari seseorang yang lain yang tidak mengenalnya, dengan sesungguh-sungguhnya.
  • Orang yang tidak diutamakan karena Taqwanya, tidaklah termasuk Orang Yang Utama.
  • Siasat manusia lebih kejam daripada siasat binatang.
  • Jikalau kuketahui bahwa ia dengan itu dapat mengurangi kehormatanku, meskipun aku haus, aku tidak akan meminumnya.
  • Diantara tanda-tanda benar dalam Ukhuwah ialah menerima keritikan teman, menutupi aib teman, dan mengampuni kesalahannya." Demikianlah kata-kata Hikmah dari Imam Syafi'i r.a.

Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Akhir Zaman

فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُوْنَ
“Pada hari datang sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi diri sendiri yg belum beriman sebelum itu atau dia mengusahakan kebaikan dlm masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguh kamipun menunggu ’.” Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:
“Pada hari datang sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu yg merupakan kejadian yg luar biasa yg dengan diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat dan kiamat tdk lama lagi. mk tdk bermanfaat keimanan dari satu jiwa yg sebelum tdk beriman atau yg belum membuahkan kebaikan dlm keimanan yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala mk tdk bermanfaat keimanan seorang yg kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yg kurang beramal utk semakin bertambah keimanan setelah itu. Namun yg bermanfaat bagi dia adl keimanan yg dia miliki sebelum itu serta kebaikan yg dia miliki yg diharapkan sebelum datang sebagian dari tanda-tanda tersebut. Dan hikmah dari semua itu jelas di mana keimanan yg mendatangkan manfaat adl keimanan terhadap perkara yg ghaib dan merupakan pilihan dari seorang hamba . Adapun bila tanda-tanda kekuasaan tersebut telah nampak mk telah menjadi perkara yg disaksikan sehingga keimanan tdk lagi berfaedah. Sebab hal tersebut menyerupai keimanan yg terpaksa. Seperti keimanan orang yg tenggelam yg terbakar dan orang2 semisal yg apabila telah melihat kematian dia pun berusaha melepaskan apa yg dahulu dia yakini. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِيْنَ. فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُوْنَ
“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yg telah kami persekutukan dgn Allah.’ mk iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yg telah berlaku atas hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang2 kafir.”
Dan banyak hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg menerangkan bahwa yg dimaksud dgn sebagian dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala adl terbit matahari dari tempat terbenamnya. Dan di saat manusia melihat mk mereka pun beriman. Namun keimanan mereka tidaklah bermanfaat dan telah tertutup pintu taubat atas mereka. Tatkala ini merupakan janji yg dinanti terhadap orang2 yg mendustakan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka beserta para pengikut menantikan kehancuran dan musibah mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan: ‘Katakanlah: tunggulah sesungguh kami termasuk orang2 yg menunggunya’ sehingga kalian akan mengetahui siapa di antara kita yg lbh berhak mendapatkan keselamatan.”
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Tidak bermanfaat keimanan seseorang di kala terbit matahari dari tempat terbenam krn telah masuk ke dlm hati mereka perasaan takut yg melenyapkan tiap syahwat hawa nafsu dan melemahkan tiap kekuatan dari kekuatan tubuhnya. Sehingga manusia seluruh beriman krn mereka yakin akan dekat hari kiamat. Seperti keadaan orang yg mendekati kematian yg memutuskan dari berbagai dorongan melakukan perbuatan maksiat serta melemahkan tubuh-tubuh mereka. Barangsiapa bertaubat dlm keadaan seperti ini tidaklah diterima taubat seperti tdk diterima taubat orang yg mendekati kematian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.”
Yaitu selama ruh belum sampai ke ujung tenggorokan. Waktu itu merupakan saat di mana seseorang melihat secara langsung tempat di dlm surga atau neraka. mk orang yg menyaksikan terbit matahari dari tempat terbenam juga seperti itu . Oleh karena sepantasnyalah tiap orang yg telah menyaksikan peristiwa tersebut atau yg memiliki hukum yg sama dgn yg menyaksikan taubat tertolak selama hidupnya. Sebab ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta janji-janji-Nya telah menjadi sesuatu yg terpaksa.”
Ibnu Katsir rahimahullahu juga mengatakan: “Jika seorang kafir menampakkan keimanan pada saat itu mk tdk diterima darinya. Adapun bila dia seorang mukmin sebelum hari itu jika dia baik dlm beramal mk dia dlm kebaikan yg besar. Namun jika dia mengotori lalu dia bertaubat saat itu mk tdk diterima taubatnya.”
Tertutup Pintu Taubat
Ayat yg mulia ini menjelaskan tentang akan muncul suatu waktu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk lagi menerima taubat orang2 yg hendak bertaubat di masa itu. Yaitu di kala terbit matahari dari tempat terbenam yg menandakan akan berakhir zaman dan bangkit hari kiamat. Di antara dalil-dalil yg menunjukkan tentang penafsiran sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa yg dimaksud adl tanda-tanda hari kiamat yg besar tersebut adl hadits yg diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ إِذَا خَرَجْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا؛ طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ
“Ada tiga perkara yg jika telah muncul mk tdk bermanfaat keimanan seseorang yg tdk beriman sebelum muncul atau dlm keimanan tdk membuahkan kebaikan; Terbit matahari dari tempat terbenam Dajjal dan daabbah .”
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا
“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Apabila telah terbit demikian dan manusia telah melihat mk merekapun beriman. Dan itu merupakan hari yg tdk bermanfaat keimanan bagi satu jiwa yg dia tdk beriman sebelum atau tdk menghasilkan kebaikan pada keimanannya.”
Diriwayatkan juga dari Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan:
أَنَّ اللهَ جَعَلَ بِالْمَغْرِبِ بَابًا عَرْضُهُ مَسِيْرَةُ سَبْعِيْنَ عَامًا لِلتَّوْبَةِ، لاَ يُغْلَقُ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ مِنْ قِبَلِهِ وَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: اْلآيَةَ
“Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat sebuah pintu taubat di sebelah barat yg luas sejarak perjalanan 70 tahun yg tdk akan ditutup selama matahari belum terbit dari tempat tersebut. Dan itulah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا
‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi diri sendiri yg belum beriman’.”
Al-Imam Muslim rahimahullahu juga meriwayatkan dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: ‘Aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu hadits yg tdk aku lupakan. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguh tanda hari kiamat yg paling pertama keluar adl terbit matahari dari tempat terbenamnya’.”
Juga diriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tahukah kalian ke mana pergi matahari ini?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lbh mengetahui.” Beliau mengatakan: “Sesungguh dia pergi ke tempat menetap di bawah ‘Arsy lalu dia merendahkan diri sambil sujud. Senantiasa dia dlm keadaan demikian hingga dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat yg engkau kehendaki.’ Dia pun terbit dari tempat biasa terbit. Lalu dia terus berjalan dlm keadaan manusia tdk terkejut sedikit pun akan hal itu. Sampai dia kembali berhenti lalu merendahkan diri sambil sujud di tempat menetap di bawah ‘Arsy. Dan manusia tdk terkejut sedikit pun dari hal itu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat terbenammu!’ Lalu terbitlah dia dari tempat terbenamnya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian hari apa itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lbh mengetahui.” Beliau menjawab: “Itu adl hari yg tdk bermanfaat keimanan bagi satu jiwa yg tdk beriman sebelum atau keimanan yg pada tdk menghasilkan kebaikan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini merupakan riwayat-riwayat yg saling menguatkan yg sepakat menunjukkan bahwa jika matahari terbit dari tempat terbenam tertutuplah pintu taubat dan tdk terbuka lagi. Dan hal tersebut tdk dikhususkan pada saat hari terbit namun terus berlanjut hingga hari kiamat.”
Pengingkaran Ahlul Bid’ah tentang Kejadian Ini
Seluruh riwayat ini menunjukkan bahwa kejadian ini pasti akan terjadi di akhir zaman. Dan tdk ada yg mengingkari kecuali dari kalangan ahlul bid’ah seperti Khawarij dan Mu’tazilah.
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata dlm Tafsir- setelah beliau menyebutkan hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat tersebut: “Ini semua telah didustakan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah.” Lalu beliau menyebut atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Wahai sekalian manusia sesungguh rajam itu benar mk janganlah kalian tertipu. Dan hujjah yg menunjukkan hal tersebut bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegakkan rajam dan Abu Bakr pun telah merajam dan sesungguh kami pun telah melaksanakan rajam setelah mereka berdua. Dan akan muncul satu kaum dari kalangan umat ini yg akan mendustakan rajam mendustakan Dajjal mendustakan terbit matahari dari tempat terbenam mendustakan ada siksa kubur mendustakan syafaat mendustakan kaum yg keluar dari neraka setelah mereka hangus terbakar.”
Ibnu Abdil Barr rahimahullahu juga berkata dlm kitab At-Tamhid setelah menyebutkan atsar ini: “Seluruh Khawarij dan Mu’tazilah mendustakan enam perkara ini. Sedangkan Ahlus Sunnah membenarkan dan merekalah al-jamaah serta hujjah membantah orang2 yg menyelisihi Ahlus Sunnah.”
Pengingkaran Rasyid Ridha tentang Sujud Matahari di Bawah ‘Arsy
Di antara orang2 yg mengingkari perkara ini adl Muhammad Rasyid Ridha. dlm tafsir Al-Manar dia berkata setelah menyebutkan hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tentang sujud matahari di bawah ‘Arsy: “Hadits ini diriwayatkan oleh dua Syaikh dari berbagai jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik dari Abu Dzar. Dan dia –walaupun di-tsiqah-kan oleh segolongan orang– adl mudallis. Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: ‘Dia tdk bertemu Abu Dzar.’ Seperti yg dikatakan Ad-Daruquthni rahimahullahu: ‘Dia tdk mendengar dari Hafshah dan Aisyah dan tdk menjumpai zaman keduanya.’ Dan seperti yg disebutkan oleh Ibnul Madini rahimahullahu: ‘Dia tdk mendengar dari ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hal itu disebutkan dlm Tahdzib At-Tahdzib. Dan telah diriwayatkan selain riwayat ini dari para sahabat dgn cara ‘an’anah1 sehingga ada kemungkinan yg memberitakan kepada dari mereka adl orang yg tdk terpercaya. mk jika pada sebagian riwayat Shahihain dan kitab-kitab Sunan berpenyakit seperti ini ditambah lagi ada kemungkinan dimasuki kisah Israiliyat dan kekeliruan penukilan secara makna lalu bagaimana lagi dgn riwayat-riwayat yg ditinggalkan oleh dua Syaikh dan yg ditinggalkan oleh periwayat kitab-kitab Sunan?”
Inilah perkataannya.
Dan ini merupakan perkataan yg batil yg dijadikan senjata oleh ahlul bid’ah utk menolak hadits-hadits yg shahih yg datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menolak apa yg telah menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun jawaban terhadap syubhat Rasyid Ridha adl sebagai berikut:
Pertama: dlm hadits tersebut tdk terdapat riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Namun yg benar adl riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari ayah dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Dan ayah bernama Yazid bin Syarik At-Taimi Al-Kufi. Beliau meriwayatkan hadits secara langsung dari para shahabat di antaranya: ‘Umar bin Al-Khaththab ‘Ali bin Abi Thalib Abu Dzar Ibnu Mas’ud dan yg lain radhiyallahu ‘anhum. Beliau adl seorang perawi yg tsiqah.
Kedua: dlm riwayat tersebut Ibrahim bin Yazid telah menyebutkan secara jelas bahwa beliau mendengarkan hadits secara langsung dari ayah tanpa perantara. Sebagaimana yg disebutkan dlm riwayat Muslim dia mengatakan: “Dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi bahwa dia mendengar –sebagaimana yg aku ketahui– dari ayah dari Abu Dzar.” mk hilanglah persangkaan tuduhan tadlis dlm riwayat tersebut.
Oleh krn itu para ulama Ahlus Sunnah terus menerima hadits ini tanpa ada penolakan dari mereka. Abu Sulaiman Al-Khaththabi rahimahullahu berkata ketika menjelaskan hadits Abu Dzar tersebut: “Pada perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tempat menetap di bawah Arsy’ kita tdk mengingkari bahwa matahari memiliki tempat menetap di bawah ‘Arsy dari sisi yg kita tdk mampu menjangkau tdk bisa kita saksikan. Dan sesungguh bila kita dikabarkan tentang perkara ghaib mk kita tdk mendustakan dan tdk menanyakan bagaimana sebab ilmu kita tdk mampu menjangkaunya.”
An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Adapun tentang sujud matahari itu adl sebuah jangkauan ilmu yg Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ciptakan padanya.”
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita sekkalian dari penyimpangan yg menyesatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.

‘Iffah Sebuah Kehormatan Diri

Persaingan hidup yg semakin tinggi dan keras banyak memunculkan perilaku umat yg melanggar batasan syariat. Bila perbuatan suka meminta-minta sudah bisa menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh mk yg lbh berat dari sekedar meminta-minta –seperti korupsi mencuri merampok dsb.– lbh menghinakan pelakunya. Namun toh perbuatan tersebut semakin banyak dilakukan. Termasuk marak perilaku kaum wanita hanya demi menginginkan enak hidup mereka rela melakukan perbuatan yg menghilangkan kemuliaan mereka. Padahal agama ini telah menuntunkan agar mereka senantiasa menjaga kemuliaan diri mereka.
‘Iffah sebuah kata yg pernah atau biasa kita dengar. Si Fulan ‘afif atau si Fulanah ‘afifah merupakan sebutan bagi lelaki dan wanita yg memiliki ‘iffah. Lalu apa sebenar yg dimaksud dgn ‘iffah itu?
Secara bahasa ‘iffah adl menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuh dari perkara-perkara yg Allah haramkan. Dengan demikian seorang yg ‘afif adl orang yg bersabar dari perkara-perkara yg diharamkan walaupun jiwa cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Dan orang2 yg belum mampu utk menikah hendaklah menjaga kesucian diri sampai Allah menjadikan mereka mampu dgn karunia-Nya.”
Termasuk dlm makna ‘iffah adl menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ
“Orang yg tdk tahu menyangka mereka itu adl orang2 yg berkecukupan krn mereka ta’affuf .”
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa orang2 dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka yg minta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan beliau berikan hingga habislah apa yg ada pada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka ketika itu:
مَا يَكُوْنُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ لا أدَّخِرُهُ عَنْكُمْ، وَإِنَّه مَنْ يَسْتَعِفّ يُعِفّه اللهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرُ يُصَبِّرَهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ، وَلَنْ تُعْطَوْا عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
“Apa yg ada padaku dari kebaikan tdk ada yg aku simpan dari kalian. Sesungguh siapa yg menahan diri dari meminta-minta mk Allah akan memelihara dan menjaga dan siapa yg menyabarkan diri dari meminta-minta mk Allah akan menjadikan sabar. Dan siapa yg merasa cukup dgn Allah dari meminta kepada selain-Nya mk Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yg lbh baik dan lbh luas daripada kesabaran.” 1
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Dalam hadits ini ada anjuran utk ta’affuf qana’ah dan bersabar atas kesempitan hidup dan selain dari kesulitan di dunia.”
Menjadi wanita yg ‘afifah
Bila seorang muslim dituntut utk memiliki ‘iffah mk demikian pula seorang muslimah. Hendak ia memiliki ‘iffah sehingga ia menjadi seorang wanita yg ‘afifah krn akhlak yg satu ini merupakan akhlak yg tinggi mulia dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah yg shalih yg senantiasa menghadirkan keagungan Allah dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi orang2 yg selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.
Berkaitan dgn ‘iffah ini mk ada beberapa hal yg harus diperhatikan dan dilakukan oleh seorang muslimah utk menjaga kehormatan diri di antaranya:
Pertama: Menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقٌلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…”
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Allah Jalla wa ‘Ala memerintahkan kaum mukminin dan mukminat utk menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adl menjaga dari perbuatan zina liwath dan lesbian dan juga menjaga dgn tdk menampakkan dan menyingkap di hadapan manusia.”
Kedua: Tidak bepergian jauh sendirian tanpa didampingi mahram yg akan menjaga dan melindungi dari gangguan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُسَافِر امرَأَةٌ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya.”
Ketiga: Tidak berjabat tangan dgn lelaki yg bukan mahramnya. Karena bersentuhan dgn lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dlm jiwa yg akan membuat hati itu condong kepada perbuatan keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: “Secara mutlak tdk boleh berjabat tangan dgn wanita yg bukan mahram sama saja apakah wanita itu masih muda ataupun sudah tua. Dan sama saja apakah lelaki yg berjabat tangan denga itu masih muda atau kakek tua. Karena berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua pihak. ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata tentang teladan kita :
مَا مَسَتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ إِلاَّ امْرَأَةً يَمْلِكُهَا
“Tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah menyentuh tangan wanita kecuali tangan wanita yg dimiliki .”
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yg dilakukan dgn memakai alas/ penghalang ataupun tanpa penghalang. Karena dalil dlm masalah ini sifat umum dan semua ini dlm rangka menutup jalan yg mengantarkan kepada fitnah.”
Keempat: Tidak khalwat dgn lelaki yg bukan mahram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dlm titah yg agung:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ
“Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-sepi dgn seorang wanita kecuali bila bersama wanita itu ada mahramnya.”
Kelima: Menjauh dari hal-hal yg dapat mengundang fitnah seperti mendengarkan musik nyanyian menonton film gambar yg mengumbar aurat dan semisalnya.
Seorang muslimah yg cerdas adl yg bisa memahami akibat yg ditimbulkan dari suatu perkara dan memahami cara-cara yg ditempuh orang2 bodoh utk menyesatkan dan meyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah yg rusak dan tdk berfaedah dan ia tdk akan membuang harta utk merobek kehormatan diri dan menghilangkan ‘iffah-nya. Karena kehormatan adl sesuatu yg sangat mahal dan ‘iffah- adl sesuatu yg sangat berharga.2
Memang usaha yg dilakukan utk sebuah ‘iffah bukanlah usaha yg ringan. Butuh perlu perjuangan jiwa yg sungguh-sungguh dgn meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan orang2 yg bersungguh-sungguh utk mencari keridhaan Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguh Allah benar-benar beserta orang2 yg berbuat baik.”
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Imam Bukhari. r.a

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara, Turkistan.

Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.


Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam.
Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.

Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.
Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.

Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari, pent.)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.
Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:

Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al Husein bin Harits memuji Abu Abdillah Al Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh Allah hanya untuk hadits”.
Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dari pada Muhammad bin Ismail (Al Bukhari).”Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.

Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.
Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah –ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engaku mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”. Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.

Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.
Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain).”
Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.
Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”

Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”
Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.

Sumber:
Siyar A’laam An-Nubala’ karya Al Imam Adz-Dzahabi dll
http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=170

 free web counter Counter Powered by  RedCounter

About this blog

Semoga media ini bisa menambah timbangan amalku di akhirat kelak, Amiin Ya Rabbal 'alamiin. kirimkan kritik dan saran ke alamat penjagaquran@gmail.com

Buletin Jum'at

Fatwa Rasulullah

Doa dan Dzikir Rasululah SAW

Biografi Tokoh

1 day 1 ayat

Download


ShoutMix chat widget
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku