Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan

Maksiat dan Pengaruhnya

Seorang siswa yang melanggar tata tertib di sekolah misalnya, dia akan mendapatkan sanksi. Pengendara mobil atau motor yang menerobos lampu merah contohnya, dia juga akan mendapatkan masalah, mulai dari dimaki-maki orang, ditilang polisi, bahkan mendapat kecelakaan.
 
Begitu pula, Allah telah membuat peraturan dan hukum untuk kebaikan kita, bila kita mentaati tentunya.  Pelanggaran terhadap peraturan dan hukum Allah kita kenal dengan sebutan maksiat.
 
Dasar-dasar maksiat
 
Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal.
 
  1. Terikat hatinya pada selain Allah, seseorang yang hatinya terikat pada selain Allah akan bermuara pada perbuatan menyekutukan Allah (syirik).
 
  1. Mengikuti nafsu amarah, orang yang memperturutkan nafsu amarahnya akan melakukan perbuatan zolim, dan sampai pada tindakan membunuh.
 
  1. Memperturutkan Syahwat, orang yang terlena dan memperturutkan nafsu syahwatnya akan jatuh pada perbuataan keji dan melakakan perbuatan zina
 
Dan seseorang sangat mungkin terjatuh dan melakukan semua muara dosa di atas sekaligus. Oleh karenanya Allah telah memberi gambaran kepada kita tentang sifat-sifat ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Allah) diantaranya :
 
”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)
Oleh sebab itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari ketiganya, yaitu:
a.       Menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah.
 
b.      Mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia.
 
c.       Menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina
 
Pengaruh Maksiat
 
Pengaruh maksiat pada pribadi
 
·         Berkurangnya Iman
Maksiat yang dilakukan oleh seseorang dapat menyebabkan berkurangnya iman orang tersebut,
 “Sesungguhnya iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”.
 
·         Kehilangan Iman
Bahkan maksiat dapat menghilangkan keimanan orang yang melakukannya sebagaimana hadis Nabi : 
 “Tidaklah orang yang berzina itu ketika dia berzina dalam beriman, tidaklah orang yang mencuri itu ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, dan tidaklah orang yang meminum khamer itu ketika ia minum dalam keaadaan beriman”. (HR. Bukhari)
 
·         Tertutupnya hati
Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).
 
·         Rizkinya terhalang
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
 
·         Hafalan dan daya ingat buruk
Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
 
·         Hilangnya nikmat Allah dan potensi diri
Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”
Pengaruh maksiat pada keluarga
Ø Lenyapnya suasana harmonis dalam rumah tangga
Interaksi kita dengan Allah sangat berengaruh pada interaksi kita pada istri/suami,anak dan anggota keluarga yang lain, ketika kita sedang dekat dengan Allah, rajin beribadah baik yang wajib apalagi ditambah dengan ibadah sunnah, meninggalkan dosa-dosa kecil maupun besar, coba perhatikan dan rasakan niscaya istri/suami, anak dan anggota keluarga akan dekat dengan kita dan suasana dalam rumah tangga akan terasa harmonis. Begitu pula sebaliknya.
 
Ø Keluarga berantakan
Namun bila kita melakukan maksiat dan terus bermaksiat, dapat dipastikan keharmonisan dalam rumah tangga lambat laun akan berkurang bahkan akan hilang dan akan berganti dengan ketidak nyaman dan bahkan bisa saja keluarga menjadi berantakan bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi pereraian dan anak-anak menjadi korban
 
Pengaruh maksiat pada masyarakat
Hilangnya keberkahan dan rahmat Allah
Allah menjanjikan apabila penduduk satu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan dari bumi, dalam surat Al A’raf ayat 96 Allah berfirman : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Demikianlah janji Allah, sebaliknya bila penduduk negeri tersebut tidak beriman dan bertakwa bahkan kemaksitan merajalela, niscaya murka Allah akan menghampiri mereka.
 
Terjadi keresahan dan kekacauan pada masyarakat
Tidak ada satupun kemaksitan oleh seseorang keuali akan menimbulkan keresahan baik dalam diri sipelaku maupun orang lain, penurian, perampokan, pembunuhan, dan semua hal yang mengandung unsurmaksiat pasti menyisakan rasa tidak nyaman dan keresahan bahkan kekaauan dalam masyarakat
  
Terjadinya musibah yang dahsyat
Allah SWT mengingakan kita dalam surat Al Anfal ayat 25 : “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
bahwa maksiat yang dilakukan oleh seseorang atau sekelomok orang dapat mendatangkan musibah yang ternyata dapat menimpa siapa saja, oleh karena itu kita harus mencegah maksiat siapapun pelakunya.
 
Allahu’alam bishowab


Dompet di ambil sewaktu Sholat

 
ASSALAMMUALAIKUM,WR,WB
SAYA WAKTU ITU SEDANG MELAKSANAKAN SHOLAT SUNNAH DOMPET SAYA,
SAYA TARUH DIDEPAN SAYA,NAH PADA WAKTU ITU DOMPET SAYA DIAMBIL 
SAMA ORANG DAN DIBUKANYA,PADA WAKTU DIBUKA TERLIHAT OLEH SAYA,
SEWAKTU SHOLAT BAGAIMANA TANGGAPAN "ISNET"TENTANG INI DAN SARAN 
UNTUK SAYA

WASSALAM

Jawaban:

Ass wr wb
Sebaiknya anda cegah orang tersebut mengambil dompet anda. Ada beberapa
hal yang harus anda pertimbangkan:
1. anda dalam keadaan sholat sunnah bukan wajib
2. jikalau anda sedang sholat lalu ular melintas didepan anda, maka anda
harus selamatkan diri dengan membunuh ular itu; jangan tunggu sampai
sholat anda selesai, nanti anda keburu digigit ular. Ini berdasarkan
tuntunan Nabi.
3. Rasul dan sahabat dilarang berperang di bulan haram. Tiba-tiba musuh
datang menyerang pada bulan haram. Saat itu para sahabat bingung antara
pilihan mentaati perintah Allah atau mempertahankan diri. Al-Qur'an
menjawab dengan menyuruh Nabi mempertahankan diri.
4. Mbok ya...kalau shalat itu dompet disimpan ditempat yg aman lah...:-)


salam hangat,
=nadir=

berbohong

 
Saya mempunyai kebiasaan yg dianggap sebagian orang kurang baik, misalnya begini :
kalau saya membeli suatu barang yg cukup berharga, ketika saya ditanya orang 
berapa harga barang itu ?.... saya selalu menjawab " maaf saya tidak tahu, 
sebab barang ini di kasih oleh saya teman saya ".
adapun maksud saya mengutarakan jawaban itu adalah dengan niatan yg 
sungguh-sungguh agar orang tidak menyangka saya orang yg punya uang atau 
banyak duitnya.  atau keberadaan setiap harta benda yg ada pada saya itu 
adalah merupakan belas kasihan orang lain.  menurut tanggapan islam 
bagaimana perbuatan saya ini...
terima kasih.
assalamu'alaikum


Jawaban:

Ass wr wb
Anda telah berbohong. Selama tidak ada alasan yang kuat spt kekhawatiran 
akan keselamatan diri, harta dan agama, anda tidak dibenarkan berbohong. 
Jadi, saran saya dijawab saja dengan jujur tanpa harus berbohong. Atau bisa 
juga anda bilang, "ada deh...ini kan rahasia", sambil tersenyum...Jadi, 
banyak cara untuk tidak berbohong kan....

salam hangat,
=nadir=

Menghadapi Pembeli yang Sumber Dananya Haram




Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, seorang anggota taklim. Saya pernah menanyakan sesuatu yang sampai saat ini belum bisa saya jawab. Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya seorang pedagang menghadapi calon pembelinya yang dia tahu dana untuk membeli barangnya berasal dari sumber yang haram (misalnya judi)?

Mohon bantuan Ustadz untuk memberikan jawabannya. Semoga Allah swt memberikan taufik kepada Ustadz. Jazakumullah khair.

Wassalamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh.

Ridwanhidayat
ridwanhidayat at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam syarat dan rukun jual beli, tidak ada ketentuan bahwa uang yang digunakan untuk membeli harus uang halal. Sehingga pada hakikatnya, bila seorang pembeli membeli barang dengan uang haram, seperti hasil judi, maka jual beli itu tetap sah.

Adapun si pembeli berdosa karena berjudi, itu urusan yang bersangkutan. Yang perlu diperhatikan adalah syarat dan rukun jual belinya itu sendiri, apakah sudah terpenuhi atau tidak. Bila tidak terpenuhi, maka jual beli itu tidak sah. Sebaliknya bila sudah terpenuhi, maka jual beli itu sah secara hukum.

Lain halnya bila yang tidak halal justru barang yang dibeli. Misalnya dalam jual beli mobil hasil curian. Jelas tidak sah jual beli itu, lantaran barang yang diperjual-belikan bukan milik si penjual (mamluk). Dan syarat barang yang diperjual-belikan itu pada dasarnya ada 5 hal:

1. Barang itu suci, bukan najis
2. Barang itu bermanfaat, bukan benda yang madharrat
3. Barang itu dimiliki sepenuhnya oleh yang menjual, bukan barang curian atau rampasan
4. Barang itu bisa diserahkan, baik secara hakiki atau formalitas
5. Barang itu terukur dan terdefinisikan kualitas maupun kuantitasnya.

Adapun alat pembayaran yang berupa uang, pada dasarnya berhukum halal, kecuali secara subjektif menjadi haram berdasarkan kasus orang per-orang.

Dan uang hasil judi, meski hukum mendapatkannya haram, namun uang itu sendiri sebagai sebuah benda tidak ikut jadi najis sehingga tidak boleh disentuh secara fisik. Ketika penjudi itu membeli sesuatu dengan memenuhi syarat dan rukun jual beli, maka jual belinya itu sah.

Barangkali kasusnya agak mirip dengan orang yang pergi haji dengan biaya hasil korupsi. Uang hasil korupsi itu haram dilihat dari cara mendapatkannya. Tetapi ibadah haji yang dilakukan dengan menggunakan uang itu, bila terpenuhi syarat dan rukunnya, tetap sah dan gugurlah kewajiban hajinya.

Juga agak mirip dengan orang yang shalat dengan memakai kain sarung hasil curian. Sarungnya didapat dengan cara yang haram, tapi shalatnya tetap sah selama syarat dan rukunnya terpenuhi.

Namun lepas dari hitam putih masalah hukumnya, alangkah baiknya bila seseorang berjual beli dengan harta yang halal. Sehingga rezki itu berkah secara lahir dan batin.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apakah Korupsi Dosa Besar?


Pak Ustadz, Indonesia adalah negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tapi juga sebagai negara paling korup di dunia. Akibat perilaku korup ini maka uang negara yang tadinya untuk pembangunan menjadi berkurang, sehingga rakyat menjadi miskin. secara logika karena penduduk yang beragama Islamnya terbesar maka orang yang melakukan korupsi tersebut dapat disimpulkan adalah orang yang beragama Islam.

Dalam khotbah Jum' at yang saya ikuti sering dikupas tentang dosa besar, anehnya Korupsi tidak termasuk dosa besar. Dosa besar katanya hanya syirik. Saya khawatir kalau fatwa khotib ini terus di sebarluaskan maka pelaku korupsi tidak akan berhenti di Indonesia. Karena mereka anggap korupsi hanya dosa kecil yang dapat diampuni begitu saja misalnya dengan naik haji.

Sebagai bahan pertimbangan, menurut hemat saya korupsi dapat dikategorikan dosa besar karena akibat perbuatannya telah menyengsarakan orang banyak. Mohon kiranya dapat diberikan jawaban atas pertanyaan ini.

Akmal
akmalfauzan at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarkatuh,

Korupsi bisa digolongkan ke dalam varian dari dosa besar, meski tidak ada dalil yang secara langsung menyebutkannya seperti syirik, zina, mencuri minum khamar dan lainnya. Mungkin karena di masa Rasulullah SAW jarang atau bahkan tidak ada kasus korupsi.

Namun secara hukum Islam, kasus korupsi bisa dimasukkan ke dalam jenis khiyanah (berkhianat). Karena pada hakikatnya, pelaku korupsi adalah orang yang diberi amanah oleh negara untuk menjalankan tugas dan disediakan dananya. Tapi alih-alih tugas dijalankan, justru dananya disikat duluan. Dan amanah tidak bisa dijalankan.

Sedikit berbeda dengan delik pencurian, di mana ada syarat bahwa pencuri itu bukan orang yang punya akses ke tempat uang. Dan uang atau harta itu disimpat di tempat yang aman, tetapi pencuri secara sengaja menjebolnya, baik dengan merusak pengaman atau mendobraknya. Definisi pencurian yang disepakati para ulama umumnya adalah:

"Mengambil hak orang lain secara tersembunyi (tidak diketahui) atau saat lengah di mana barang itu sudah dalam penjagaan/dilindungi oleh pemiliknya."

Secara hukum hudud, pencuri yang sudah memenuhi syarat pencurian, wajib dipotong tangannya, sebagaimana firman Allah SWT:

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Maidah: 38)

Sedangkan korupsi, karena dilakukan oleh 'orang dalam', maka delik hukumnya sedikit berbeda dengan pencurian. Namun bahwa dosanya besar, tentu saja tidak ada yang menentangnya.

Dan secara hukum Islam, meski tidak ada nash Quran dan hadits tentang bentuk hukuman pelaku tindak korupsi, namun masih ada hukum ta'zir. Sehingga asalkan sistem dan aparat hukumnya baik, pelaku korupsi tetap bisa menerima 'hadiah' hukuman setimpal. Bahkan bisa dihukum mati juga.

Namun kita semua tahu bahwa sistem hukum di negeri ini sangat-sangat bobrok. Bukan hanya sistemnya yang parah, tapi yang lebih membuat pilu justru mental aparatnya, law enforcmen-nya. Padahal justru aparat hukum itu yang paling menentukan tegaknya hukum.

Apa yang bisa diharapkan kalau yang jadi maling justru aparat hukumnya? Apa yang bisa kita harapkan dari lembaga hukum yang dijejali oleh maling, rampok, pencoleng, bandit, preman, jagoan, jegger, tukang palak, residivist, penyamun dan tokoh dunia hitam?

Sejuta ceramah di masjid, sejuta fatwa ulama, sejuta undang-undang, sejuta kutukan akan menjadi tidak ada gunanya, bila aparat penegak hukum masih dijejali spicies macam itu. Indonesia tetap masih akan menjadi surga buat para koruptor untuk batas waktu yang tidak ditentukan.

Reformasi, pergantian kekuasaan, munculnya partai-partai, rangkaian panjang demonstrasi, menjadi tidak ada artinya. Korupsi tetap menjadi idola bangsa ini, sebuah habit yang berurat akar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang terjadi bukan hilangnya korupsi, tetapi korupsi bergilir oleh pelaku yang berbeda, bagaikan piala tujuh belasan. Bahkan dihitung dari nilai yang dikorupsi, angkanya semakin besar.

Jadi meski kita berhasil membuat undang-undang yang memastikan koruptor dihukum mati, belum tentu korupsi di negeri ini akan segera masuk kuburan. Selama aparat di lembaga hukum mulai dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah belum dibenahi imannya. Atau kalau memang sudah tidak ada harapan lagi, dipecat semua atau menunggudikubur terlebih dahulu. Diganti dengan lapisan orang-orang beriman sekualitas malaikat yang tidak doyan makan duit. Tapi, di mana bisa kita dapati orang 'aneh' macam begini di zaman edan ini?

Satu-satunya harapan adalah menyiapkan generasi baru yang tebal imannya, takut pada Allah dan ngeri membayangkan neraka. Sejak awal generasi ini harus ditumbuhkan dengan tarbiyah Islamiyah yang lengkap, sehat, murni dan alami. Bukan tidak mungkin untuk tidak dilakukan, tetapi masih sedikit yang berpikir kesana.

Semoga Allah SWT segera melahirkan generasi idaman ini, generasi yang tidak doyan harta, karena imannya sangat tebal da hanya berharap masuk surga. Generasi sebagaimana pendahulu kita, seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Punk Taubat



Berbekal ilmu agama pas-pasan, penghuni rumah singgah Sanggar Oedix, Pulo Gadung, Jakarta, berdakwah kepada kelompok punk jalanan. Mereka adalah kelompok punk muslim yang rajin menggelar pengajian tiap malam Jumat.
DARI balik tembok taman kota yang gelap dan rimbun, muncul enam laki-laki muda dan seorang perempuan. Kulit mereka hitam dan dekil. Mereka berdandan aneh. Sebagian bertindik di kedua telinga.

“Di dalam masih ada lima cowok dan seorang cewek, tapi nggak mau ikut. Katanya, capek karena seharian ngamen,” tutur Asep Vanhalen, anggota punk muslim yang badannya penuh tato.
Malam itu, Kamis pukul 23.30, Asep bertugas menjemput kelompok punk yang biasa mangkal di perempatan Klender. Pemuda 21 tahun tersebut akan membawa mereka ke markas punk muslim di Jalan Swadaya No 3, Pulo Gadung. Setiap malam Jumat, di sana digelar punkajian —istilah pengajian bagi anak-anak punk.
Punk Klender, menurut Asep, termasuk golongan yang masih salahn jalan. Mereka tidak mengenal agama. Punk jalanan hidup berkelompok dengan anggota lebih dari sepuluh orang. “Saya dulu juga hidup seperti mereka,” papar dia. Dia bisa mengajak punk Klender karena kenal dengan pimpinannya saat berada di penjara anak.

Punk jalanan biasa tidur dimana saja. Antara lain, emperan toko, halte, dan kebun kosong. Demikian juga kencing dan BAB (buang air besar), mereka melakukannya di mana saja. “Yang paling sakral, mereka tidak mau mandi. Bahkan, kalau ada asap knalpot, baju mereka dideketin agar tambah kotor,” ujar Asep. “Makin kotor, makin ngepunk,” tambah dia.
Tiba di tempat tujuan, rombongan punk Klender disambut rekan-rekan sesama punk yang muslim. Mereka berada di markas tersebut sejak pukul 22.00.

Berbeda dengan acara pengajian pada umumnya, yang biasa didominasi baju takwa dan kopiah, jamaah punkajian berbaju apa adanya. Rombongan punk Klender tidak diberi tahu bahwa pertemuan itu bernama pengajian. “Kami ingin silaturahmi saja,” tutur Ahmad Zaki, salah seorang pendiri punk muslim, kepada tamunya dari Klender.

Asap rokok mengepul ditemani makanan seadanya. Mereka bicara tentang berbagai hal, mulai musik hingga masalah-masalah jalanan. Salah seorang dari Klender mengadu pernah dipukul seorang preman. Pengaduan itu ditanggapi serius oleh kelompok punk muslim. Mereka berjanji membantu. “Kalau mau gabung punk muslim, kami bantu tangkap orang itu. Nanti, banyak teman pengacara yang bantu,” ujar Zaki.

Lelaki 25 tahun yang bekerja di Dompet Dhuafa tersebut mengungkapkan, punk jalanan hampir tak pernah salat. Mereka menganggap salat dan Tuhan tidak berguna. “Tuhan mereka adalah uang,” ujarnya. “Mereka rata-rata ateis sosialis. Kalau ada yang beragama, itu bisa saja. Tapi secara komunitas, (punk) nggak mengenal (Tuhan, Red),” jelas dia.

Di forum tersebut, beberapa anggota punk muslim menceritakan pengalaman mereka di jalanan dengan bahasa anak jalanan. Kemudian, barulah mereka menyelipkan petuah-petuah tentang kehidupan yang lurus. Menurut Zaki, rata-rata punk jalanan bingung menjawab, apakah punk bisa menjadi jaminan masuk surga. “Biasanya, ada yang tobat. Ada yang salat tahajud saja, tapi tidak salat lima waktu. Lumayan lah,” ungkapnya lantas terkekeh.

Saat ini Zaki dan teman-temannya rajin mendekati kelompok-kelompok punk jalanan. Tak jarang mereka bertemu kelompok-kelompok punk di luar Jakarta. Misalnya, Jogjakarta, Tegal, Semarang, Palu, dan Batam. “Kami prospek mereka. Kami nggak bisa mengubah seseorang secara frontal. Ada yang kala bertemu bilang muslim, begitu lepas kafir lagi,” papar dia.

Punk muslim dibentuk pada 2007, tepatnya Ramadan, di rumah singgah anak jalanan, Sanggar Oedix, sebelah kiri Terminal Pulo Gadung. Rumah tersebut dulu merupakan tempat berkumpul para preman, copet, penodong, dan pengamen. Berkat tangan dingin Ketua Panji (Persaudaraan Anak Jalanan Indonesia) Budi Khaironi (almarhum), rumah itu berubah menjadi tempat pertobatan anak jalanan.
Sampai 2009, kelompok punk muslim belum berani terang-terangan menunjukkan eksistensi. Saat ini tak kurang dari 15 anak punk yang tinggal di Sanggar Oedix. “Tahun ini kami ingin kegiatan terbuka. Misalnya, punkajian di terminal atau halte-halte,” tutur Zaki. Tujuannya, setidaknya mengimbau anak punk agar mau mandi. “Kalau sebelumnya mereka nggak mandi sampai empat tahun, kami usahakan mau wudu, bersih-bersih badan,” sambungnya.

Dharma Putra, salah seorang anggota punk muslim, mengakui awalnya susah mengikuti jalan hidup islami. Sebab, tiap hari dia hanya memikirkan cara mendapatkan uang. Dengan mengamen di Terminal Pulo Gadung mulai pagi sampai malam, dia bisa mendapatkan uang minimal Rp100 ribu. “Karena dapatnya gampang, ya untuk beli minuman, narkoba. Sekarang, alhamdulillah tidak lagi. Ngamen masih, salat jalan terus,” ucap laki-laki 26 tahun itu.

Pengamen yang dikenal dengan nama Ambon tersebut mengatakan, banyak punk jalanan yang tidak konsisten. Mereka rata-rata bukan lagi pencinta musik punk, melainkan hanya ikut-ikutan mode. Anehnya, sebagian besar menganggap gaya hidup ala sosialis komunis itu sebagai ideologi. “Saking sosialisnya, ada cewek (punk jalanan, Red) yang dipakai bersama-sama,” ungkapnya.

Punk muslim yang lain, Iip Kiswaryadi, menyatakan bosan hidup di jalanan. Bertahun-tahun laki-laki 27 tahun yang akrab dipanggil Otoy itu menjadi target operasi (TO) polisi karena sering menodong dengan sasaran etnis tertentu. “Polisi sudah bosan cari saya. Sebab, nggak ada duitnya. Maka, saya bergabung di sini untuk mencari kehidupan yang lebih tenang,” terang dia. “Lingkungan saya yang lama susah maju,” sambungnya. Kini seks bebas, obat-obatan terlarang, serta aktivitas mencopet dan menodong tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan penghuni rumah singgah Sanggar Oedix. (agus wirawan/jpnn)

Pentingnya memahami sejarah hidup Nabi SAW




Salah satu keharusan sebagai manusia adalah mempelajari sejarah, baik yang terkait dengan pribadi seseorang, kelompok suatu masyarakat maupun bangsa dan peradaban manusia itu sendiri. Mempelajari sejarah ini punya arti penting bagi kita, karena dengan demikian kita tidak hanya menjadi tahu tentang perjalanan hidup manusia, tapi juga dapat mengambil ibroh atau pelajaran dari orang lain atau generasi terdahulu sehingga yang baik kita tiru dan yang buruk kita jauhi. Disamping itu, orang yang memiliki kesadaran sejarah akan memperoleh pengaruh yang positif dalam menyikapi kenikmatan atau keberhasilan dan kesengsaraan atau penderitaan. Orang yang memiliki kesadaran sejarah tidak akan merasa paling baik, paling benar, apalagi sebagai satu-satunya orang yang benar, karena dia tahu bahwa dahulu juga ada orang yang lebih baik atau lebih benar dari dirinya, sedang kalau mengalami hal-hal yang merugikan atau yang tidak menyenangkan tidak akan merasa sebagai orang yang paling menderita.

Salah satu contoh orang yang memiliki kesadaran sejarah adalah Nabi Ismail AS yang tidak merasa sebagai orang yang paling sabar atau satu-satunya orang yang sabar dengan keberhasilannya melewati ujian penyembelihan yang dilakukan ayahnya Nabi Ibrahim AS, tapi yang dikatakannya adalah insya Allah dirinya termasuk kedalam kelompok orang yang sabar karena dia tahu bahwa dahulu sudah ada orang yang sabar, Allah berfirman menceritakan soal ini yang artinya: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa pendapatmu?”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang Allah perintah kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS 37:102).

Karena mempelajari sejarah itu amat penting, maka Al-Qur’an juga mengungkap tentang sejarah dan Rasulullah Saw harus memiliki kesadaran bersejarah agar bisa meneladani yang baik dari generasi terdahulu sehingga Rasulullah juga harus mempelajarinya, misalnya saja Allah Swt berfirman yang artinya: Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS 60:4).

Manfaat Memahami Sirah

Dalam konteks diri kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw, maka setiap kita tentu saja harus mengenal beliau agar kita bisa meneladaninya, tapi upaya mengenal ini bukanlah sekedar mempelajarinya secara kronologis dari sebelum lahir hingga wafatnya, tapi juga harus dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi, inilah hakikatnya memahami sirah Nabawiyah. Sekurang-kurangnya, ada tiga manfaat yang kita peroleh dari memahami sirah Nabi.

Memahami Pribadi Rasul Sebagai Teladan
Allah Swt telah menyatakan bahwa Rasulullah Saw merupakan sebagai teladan yang baik bagi seorang muslim sebagaimana firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya telada ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS 33:21).

Dengan memahami pribadi Rasulullah Saw dari sirah nabawiyah, akan kita rasakan betapa ada kesenjangan yang sangat jauh antara pribadi kita dengan beliau, dan karena itu kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati kepribadiannya yang agung. Keteladanan ini bisa kita dapatkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam kaitan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa, bahkan kita dapati keteladan dalam da’wah dan perjuangan menegakkan kebenaran ajaran Islam itu sendiri.

Diantara contoh dari keagungan akhlaknya adalah; suatu malam isteri beliau yang bernama menunggu kepulangannya untuk membukakan pintu hingga larut malam. Karena sudah lama menunggu Aisyah kemudian tertidur sehingga ketika dini hari Rasulullah pulang dan memberi salam serta mengetuk pintu hingga tiga kali Aisyah tidak juga bangun, maka Rasulullahpun tidur di luar rumahnya. Saat menjelang fajar, Aisyah terbangun dan amat terkejut karena Rasulullah dianggapnya belum juga pulang, maka dia mencoba membuka pintu dan ternyata didapati Rasulullah tidur di luar rumah. Tentu saja Aisyah meminta maaf atas kejadian itu, tapi Rasulullah ternyata menganggap tidak ada yang perlu dimaafkan karena isterinya tidaklah bersalah.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa agung akhlak Rasulullah Saw dan keagungan itu akan terus kita dapatkan manakala kita mengkaji sirah nabawiyah untuk selanjutnya kita teladani dalam kehidupan kita masing-masing.

Membantu Kearah Pemahaman Terhadap Al-Qur’an
Mempelajari sirah nabawiyah juga akan membuat kita terbantu dalam upaya memahami kandungan Al-Qur’an dan ajaran Islam secara utuh, hal ini karena begitu banyak ayat Al-Qur’an atau ajaran Islam lainnya yang harus kiita pahami dari ucapan, perbuatan dan sikap Rasulullah Saw. Karena itu salah satu sumber pemahaman terhadap ajaran Islam adalah hadits-hadits Nabi Muhammad Saw.

Ada banyak contoh dalam masalah ini, misalnya untuk memahami ayat yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS 2:208).
Ayat tersebut bisa kita pahami dari sejarah nabi, karena ayat ini turun ada sebabnya; yakni ketika sekelompok sahabat yang semula beragama Yahudi meminta kepada Rasul untuk tetap dibolehkan merayakan hari Sabat (Sabtu) dan menjalankan kitab Taurat, maka turunlah ayat ini yang menunjukkan bahwa ketika seseorang sudah menjadi muslim, maka dia harus berusaha menerima dan melaksanakan ajaran Islam secara keseluruhan dan untuk itu dia harus meninggalkan keyakinan dan kebiasaan lamanya semasa jahiliyah yang memang tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Mendapatkan Gambaran Tentang Prinsip Hidup dan Hukum Islam
Dari sirah nabawiyah, kita juga akan mendapatkan prinsip-prinsip hidup dan bagaimana kita harus menjalankan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Dalam kehidupan seorang muslim, diantara prinsip hidup yang harus lekat pada dirinya adalah taat kepada Allah, karena itu, meskipun hukum Allah yang harus dijalankan itu terasa berat, tetap saja harus ditaati, inilah diantara prinsip hidup yang kita dapati dari lepribadian Rasulullah Saw bila kita mempelajari sirah nabawiyah, contoh dalam masalah ini diantaranya adalah adanya perintah Allah yang dirasakan oleh Nabi amat berat untuk melaksanakannya.Perintah itu adalah menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Zainab binti Jahsy. Hal ini karena Zainab merupakan janda dari Zaid bin Haritsah, sedang Zaid sendiri adalah anak angkat beliau, yang sebagaimana umumnya pada masyarakat jahiliyah anak angkat itu sudah dianggap seperti anak sendiri, apalagi Rasulullah mencintai dan menyayangi Zaid hingga pernah bermaksud mengganti namanya dengan Zaid bin Muhammad, tapi hal itu tidak dibenarkan oleh Allah Swt.

Kisah tentang masalah ini dikemukakan Allah di dalam Al-Qur’an yang artinya: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan apa yang Allah menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allahlah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia (setelah habis iddahnya) supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya, (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku (QS 33:37-38).

Kisah tersebut di atas sekaligus memberikan gambaran kepada kita bahwa dengan mengkaji sirah nabawiyah, kita akan mendapatkan gambaran tentang kesempurnaan ajaran Islam yang tercermin sevcara aplikatif dari pribadi Rasulullah Saw sehingga menjadi semakin jelas hakikat kebenarannya.

Setelah menyadari betapa pentingnya memahami sirah nabawiyah, maka kita ingin mengkaj dan mempelajarinya lebih lanjut. Sumber-sumber yang bisa kita gunakan untuk mengkajinya adalah melalui Al-Qur’an yang merupakan gambaran tentang akhlak Nabi, melalui hadits-hadits yang merupakan bagaimana gambaran kehidupan nabi sehari-hari, membaca literautre tentang kisah-kisah para sahabat, karena mereka adalah orang yang meniru nabi pada masanya dan mengkaji langsung dari literatur tentang sirah nabi itu sendiri.

retype by www.penjagaquran.blogspot.com
Drs. H. Ahmad Yani 

Manusia Yang dimurkai Allah




Setiap muslim pasti menghendaki agar diridhai, disenangi atau dicintai Allah Swt. Karena itu, sebagai muslim kita dituntut untuk melakukan hal-hal yang membuat Allah cinta dan ridha kepada kita, bukan hal-hal yang membuat Allah murka kepada hamba-hamba-Nya.
Di dalam Al-Qur'an dan hadits, banyak dalil yang menyebutkan perbuatan-perbuatan yang bila dilakukan manusia, maka Allah murka kepadanya. Diantara perbuatan manusia yang menyebabkan Allah murka kepadanya adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw: Empat orang yang dimurkai Allah, yaitu: penjual yang suka bersumpah, fakir yang sombong, orang tua yang berzina dan penguasa yang lalim (HR. Nasa'i dan Baihaqi).

Dari hadits di atas, ada empat kelompok manusia yang dimurkai Allah Swt, ini perlu kita bahas agar kita bisa menjauhi perbuatan tersebut sehingga kita tidak termasuk ke dalam kelompok orang yang dimurkai Allah Swt.

1. Pedagang Yang Bersumpah.
Dalam dunia perdagangan, sudah lumrah kalau pedagang ingin mendapatkan keuntungan yang besar dengan memberikan harga yang tinggi kepada pembeli, sementara pembeli juga ingin mendapatkan harga yang murah sehingga mengajukan tawaran yang rendah. Untung memang boleh diraih, penawaran harga yang murah memang boleh dilakukan, namun kejujuran antara pedagang dan pembeli haruslah diutamakan.

Tapi dalam dunia perdagangan sekarang, sangat sedikit --kalau tidak boleh kita sebut tidak ada-- pedagang dan pembeli yang jujur. Bahkan ketidakjujuran itu dibingkai juga dengan sumpah palsu dalam rangka memuji barang dagangannya yang membuatnya dianggap pantas dengan harga yang mahal sehingga pembeli menjadi yakin bahwa barang yang mahal itu menjadi terasa murah, ini membuat pembeli menjadi tambah tertarik dan membelinya. Pedagang seperti ini amat dimurkai oleh Allah Swt sebagaimana hadits di atas dan sumpah palsu memang akan membawa kebencian dari Allah Swt sehingga Dia tidak segan-segan untuk mengazabnya, Allah berfirman yang artinya: Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu diantaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar (QS 16:94).

2. Orang Miskin Yang Sombong.
Kesombongan merupakan sesuatu yang dibenci Allah Swt, orang kaya yang sombong dengan sebab kekayaannya saja Allah benci, apalagi kalau orang miskin menyombongkan diri dalam soal harta sehingga dia menampakkan dirinya seperti orang kaya dengan penuh kesombongan. Kebencian Allah kepada orang kaya yang sombong itu dikemukakan dalam firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri" (QS 28:76).

Maka dengan sebab kesombongan Karun yang kaya itulah, Allah Swt betul-betul mengazabnya di dunia ini sebagaimana firman-Nya yang artinya: Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Kalau Karun yang kaya raya tapi sombong dibenci dan diazab Allah Swt, apalagi orang miskin yang amat tidak pantas menyombongkan diri, maka bila ada orang miskin sombong, bisa jadi Allah lebih murka lagi. Tegasnya, tak ada tempat di sisi Allah buat siapapun yang menyombongkan diri, Allah berfirman yang artinya: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23).

Meskipun demikian, orang yang miskin bukan berarti harus minder, tapi dia juga harus tawadhu atau rendah hati. Miskin dan kaya bukanlah ukuran ketaqwaan kepada Allah, namun keduanya bisa membawa manusia pada ketaqwaan tapi juga bisa membawa manusia pada kemurkaan.

3. Orang Tua Yang Berzina.
Zina merupakan perbuatan yang sangat tercela, karena itu di dalam Islam, hukuman untuk orang yang berzina itu sangat berat, Allah berfirman yang artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman (QS 24:2).

Tercelanya perbuatan zina pada dasarnya berlaku untuk semua kalangan manusia, baik laki-laki maupun wanita, tua maupun muda. Namun bagi orang yang tua, dengan usianya yang panjang dan sudah dapat dipastikan semakin dekatnya pada kematian, semestinya dia menjadi orang yang semakin dekat kepada Allah Swt, bertaubat kepada-Nya dari segala dosa yang dilakukan serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Oleh karena itu, amat wajar kalau Allah Swt lebih murka kepada orang tua yang berzina ketimbang kepada orang muda yang berzina, karena peluang bertaubat kepada yang muda lebih besar ketimbang kepada yang tua. Kalau orang sudah tua tapi masih saja melakukan perzinahan, mau kemana lagi arah hidup yang hendak ditempuhnya. Karena itu Allah murka kepada orang muda yang berzina tapi lebih murka lagi bila ada orang tua yang berzina.

4. Penguasa Yang Lalim.
Hadits di atas juga menyebutkan penguasa yang lalim termasuk manusia yang dimurkai Allah Swt, hal ini karena penguasa semestinya menjadi pelayan bagi masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dalam perjalanan kehidupan umat manusia, amat banyak penguasa yang maunya dilayani oleh masyarakat bahkan cenderung menyakiti rakyatnya.
Oleh karena itu, manakala ada penguasa yang zalim, cepat atau lambat, dia akan tumbang dari kekuasaannya dengan berbagai cara dan sebab. Begitulah memang yang telah terjadi pada Fir'aun yang ditumbangkan oleh anak angkatnya sendiri, yakni Musa AS, Namrut yang ditumbangkan oleh Ibrahim AS, Abu Jahal dan Abu Lahab yang ditumbangkan oleh keponakannya sendiri Nabi Muhammad saw dan penguasa-penguasa yang zalim lainnya.

Di dalam Islam, kepemimpinan atau kekuasaan merupakan amanah yang tidak boleh disia-siakan. Bagi seorang muslim, kesempatan memimpin akan selalu digunakan untuk syiar dan penegakan nilai-nilai Islam, apapun kedudukan atau jabatan yang dipegangnya. Itu sebabnya, kepemimpinan bukan peluang untuk meraih keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya, apalagi hal itu akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Allah Swt.
Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa, kemurkaan dan kecintaan Allah Swt kepada manusia sangat tergantung kepada manusia itu sendiri. Apabila manusia melakukan hal-hal yang Allah senang, maka Allah akan mencintainya dan bila manusia melakukan hal-hal yang Allah benci, maka Allah akan murka kepada-Nya.
 
retype by www.penjagaquran.blogspot.com
Drs. H. Ahmad Yani


 

 free web counter Counter Powered by  RedCounter

About this blog

Semoga media ini bisa menambah timbangan amalku di akhirat kelak, Amiin Ya Rabbal 'alamiin. kirimkan kritik dan saran ke alamat penjagaquran@gmail.com

Buletin Jum'at

Fatwa Rasulullah

Doa dan Dzikir Rasululah SAW

Biografi Tokoh

1 day 1 ayat

Download


ShoutMix chat widget
The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku